Dynamic Blinkie Text Generator at TextSpace.net

Senin, 30 September 2013

20 Alasan Wanita Jepang Ingin Berkencan Dengan Pria Otaku

                                Foto: 20 Alasan Wanita Jepang Ingin Berkencan Dengan Pria Otaku

Kualitas apa yang dimiliki oleh pria otaku yang menarik para wanita pada mereka? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Goo membuat poling yang diikuti oleh 1.072 wanita Jepang untuk mengetahui 20 alasan teratas mereka berkencan dengan pria otaku. Poling ini dilakukan pada bulan Januari 2013 dengan hasil yang dapat kita lihat di bawah ini.

20 alasan teratas untuk berkencan dengan pria otaku:
1. Selalu setia (100)
2. Mengerti mengenai dunia IT (93,4)
3. Sederhana dan tidak terlihat mencolok (83,6)
4. Sangat kecil kecenderungannya untuk menghamburkan uang untuk minum-minum, membeli barang-barang bermerek yang mahal dan berjudi (83,1)
5. Berpotensi untuk menjadi bersinar jika dipoles (73,7)
6. Rasa malu mereka terlihat imut (71,4)
7. Tidak memaksakan diri untuk mendapatkan perhatian wanita (67,6)
8. Memiliki pengetahuan yang luas mengenai bermacam hal (63,4)
9. Pengertian akan hobi otaku (45,1)
9. Memiliki cara mereka sendiri untuk melakukan berbagai hal (45,1)
11. Tidak memberi perhatian yang terlalu berlebihan karena mereka sibuk dengan hobi mereka (39,9)
11. Terlihat sangat bersemangat jika berhubungan dengan hobi mereka (39,9)
13. Logis dan berbicara dengan sudut pandang tertentu (37,1)
13. Mampu menunjukkan dunia mereka kepada orang lain yang tidak menyadarinya (37,1)
15. Lingkaran sosial mereka tidak terlalu besar (35,7)
16. Anda akan mudah untuk memimpin hubungan itu karena kurangnya pengalaman mereka (32,9)
17. Tidak terlalu banyak membawa trauma akan hubungan masa lalu karena kurangnya pengalaman (30,5)
18. Penuh dengan bahan dan topik pembicaraan (30,0)
19. Dapat mendandani mereka seperti apapun karena mereka tidak memiliki preferensi (24,4)
20. Tidak ada keluhan saat menghabiskan uang untuk hobi (23,9)

Apakah Anda setuju dengan hasil poling di atas? Apa yang menjadi alasan Anda untuk berkencan dengan pria/wanita otaku?

~Adi~

   Kualitas apa yang dimiliki oleh pria otaku yang menarik para wanita pada mereka? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Goo membuat poling yang diikuti oleh 1.072 wanita Jepang untuk mengetahui 20 alasan teratas mereka berkencan dengan pria otaku. Poling ini dilakukan pada bulan Januari 2013 dengan hasil yang dapat kita lihat di bawah ini.

20 alasan teratas untuk berkencan dengan pria otaku:

1. Selalu setia (100)
2. Mengerti mengenai dunia IT (93,4)
3. Sederhana dan tidak terlihat mencolok (83,6)
4. Sangat kecil kecenderungannya untuk menghamburkan uang untuk minum-minum, membeli barang-barang bermerek yang mahal dan berjudi (83,1)
5. Berpotensi untuk menjadi bersinar jika dipoles (73,7)
6. Rasa malu mereka terlihat imut (71,4)
7. Tidak memaksakan diri untuk mendapatkan perhatian wanita (67,6)
8. Memiliki pengetahuan yang luas mengenai bermacam hal (63,4)
9. Pengertian akan hobi otaku (45,1)
9. Memiliki cara mereka sendiri untuk melakukan berbagai hal (45,1)
11. Tidak memberi perhatian yang terlalu berlebihan karena mereka sibuk dengan hobi mereka (39,9)
11. Terlihat sangat bersemangat jika berhubungan dengan hobi mereka (39,9)
13. Logis dan berbicara dengan sudut pandang tertentu (37,1)
13. Mampu menunjukkan dunia mereka kepada orang lain yang tidak menyadarinya (37,1)
15. Lingkaran sosial mereka tidak terlalu besar (35,7)
16. Anda akan mudah untuk memimpin hubungan itu karena kurangnya pengalaman mereka (32,9)
17. Tidak terlalu banyak membawa trauma akan hubungan masa lalu karena kurangnya pengalaman (30,5)
18. Penuh dengan bahan dan topik pembicaraan (30,0)
19. Dapat mendandani mereka seperti apapun karena mereka tidak memiliki preferensi (24,4)
20. Tidak ada keluhan saat menghabiskan uang untuk hobi (23,9)

Apakah Anda setuju dengan hasil poling di atas? ^^

Survey Membuktikan: Orang Jepang Tidur Lebih Sebentar Daripada Negara Lain

   Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara lain. Kebiasaan tidur mungkin dipengaruhi oleh budaya tempat kita tinggal. Sebuah survei internasional baru mengungkap, kebiasaan tidur orang-orang sangat beragam di seluruh dunia, tergantung tempat tinggal mereka. Sebagai contoh, orang yang tinggal di Amerika Serikat dan Jepang cenderung memiliki waktu tidur yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang tinggal di Kanada, Jerman, Meksiko, dan Inggris.

Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara-negara lain. Rata-rata mereka tidur enam jam 31 menit dan enam jam 22 menit. Survei juga menemukan, dua pertiga orang Jepang (66 persen) tidur kurang dari tujuh jam pada hari kerja. Untuk mencukupi kebutuhan tidur mereka yang kurang, 51 persen orang Amerika dan Jepang mengaku tidur siang satu hari dalam dua minggu terakhir. Orang dari negara lain yang disurvei mengatakan, mereka mengganti tidur mereka di akhir pekan dengan rata-rata 45 menit waktu tidur ekstra.


Menonton televisi sebelum tidur merupakan aktivitas sebelum tidur yang paling umum dilakukan. Antara 66 persen dan 80 persen orang di seluruh negara yang disurvei mengatakan, mereka menonton TV sebelum tidur. Naomi Goel, peneliti sekaligus profesor psikiatri di University of Pennsylvania mengatakan, sebagai survei internasional pertama yang membahas soal kebiasaan tidur, hasil ini memiliki kontribusi penting pada dunia ilmu pengetahuan. ”Meski kita tahu, semua orang butuh tidur, namun perbedaan budaya dari beberapa negara tentang kebiasaan tidur belum dieksplorasi dengan adekuat,” ujarnya.



Foto: Survey Membuktikan: Orang Jepang Tidur Lebih Sebentar Daripada Negara Lain 

Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara lain. Kebiasaan tidur mungkin dipengaruhi oleh budaya tempat kita tinggal. Sebuah survei internasional baru mengungkap, kebiasaan tidur orang-orang sangat beragam di seluruh dunia, tergantung tempat tinggal mereka. Sebagai contoh, orang yang tinggal di Amerika Serikat dan Jepang cenderung memiliki waktu tidur yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang tinggal di Kanada, Jerman, Meksiko, dan Inggris.

Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara-negara lain. Rata-rata mereka tidur enam jam 31 menit dan enam jam 22 menit. Survei juga menemukan, dua pertiga orang Jepang (66 persen) tidur kurang dari tujuh jam pada hari kerja. Untuk mencukupi kebutuhan tidur mereka yang kurang, 51 persen orang Amerika dan Jepang mengaku tidur siang satu hari dalam dua minggu terakhir. Orang dari negara lain yang disurvei mengatakan, mereka mengganti tidur mereka di akhir pekan dengan rata-rata 45 menit waktu tidur ekstra.

Menonton televisi sebelum tidur merupakan aktivitas sebelum tidur yang paling umum dilakukan. Antara 66 persen dan 80 persen orang di seluruh negara yang disurvei mengatakan, mereka menonton TV sebelum tidur. Naomi Goel, peneliti sekaligus profesor psikiatri di University of Pennsylvania mengatakan, sebagai survei internasional pertama yang membahas soal kebiasaan tidur, hasil ini memiliki kontribusi penting pada dunia ilmu pengetahuan. ”Meski kita tahu, semua orang butuh tidur, namun perbedaan budaya dari beberapa negara tentang kebiasaan tidur belum dieksplorasi dengan adekuat,” ujarnya.
 

~Adi~

Pelajaran Kecil dari Konosuke Matsushita

                                                  Foto: Pelajaran Kecil dari Konosuke Matsushita

Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita (Panasonic) group, adalah sosok yang kharismatis. Salah satu ucapan dia yang terknal adalah “Perusahaan yang memproduksi barang adalah perusahaan yang mengasuh manusia” (mono wo tsukuru kaisha wa hito wo sodateru kaisha). Artinya dia menempatkan manusia sebagai sentral dalam pengembangan perusahaan/bisnisnya. Itulah yang dia tunjukkan dalam berbagai episode kehidupannya.

Ada cerita yang sudah cukup sering ditulis di sana sini, tentang bagaimana Matsushita memilih untuk tidak mengurangi karyawan saat krisis ekonomi yang sangat dahsyat tahun 1929. Ia mengurangi produksi dengan mengurangi jam kerja karyawan, dan tetap membayar upah mereka. Menjamin karyawan dan keluarganya bisa tetap bertahan hidup di tengah krisis.

Di kemudian hari para karyawan yang dia selamatkan ini menyelamatkan dirinya. Saat Jenderal Mc Arthur menguasai Jepang, dia menahan banyak pengusaha yang terlibat dalam produksi senjata selama perang. Sebagian dari pengusaha ini melakukan hal itu karena terpaksa, di bawah tekanan rezim militer. Matsushita termasuk di antaranya. Tapi para karyawan yang diselamatkan tadi membuat petisi, meminta Matsushita dibebaskan. Akhirnya petisi ini dikabulkan.

Ada lagi cerita menarik yang saya dengar melalui sebuah stasiun TV Jepang. Suatu hari Matsushita hendak menghadiri sebuah pertemuan bisnis penting. Iya hendak menggunakan mobil, tapi sopirnya belum datang. Ia menunggu cukup lama sampai akhirnya sopir itu datang. Akibatnya ia terlambat sampai ke tempat pertemuan.

Matsushita marah besar dengan kejadian ini. Ia mengumumkan bahwa kejadian ini memalukan dan tak boleh terulang. Agar tak terulang, harus ada yang dihukum potong gaji (kalau tak salah potong sebulan gaji). Siapa yang dihukum? Ketika keputusan diumumkan, banyak orang terkejut. Ternyata Matsushita sendirilah yang dipotong gajinya. “Yang terlambat hadir di pertemuan itu saya, bukan sopir saya. Saya punya kewajiban mencari jalan agar tidak terlambat ketika sopir saya berhalangan.” begitu alasan yang dia berikan.

Di saat lain diceritakan Matsushita sedang mengamati pengunjung yang antri hendak masuk ke sebuah museum Panasonic. Terjadi antrian panjang di bawah cuaca yang cukup panas. Karena kasihan melihat pengunjung yang kepanasan itu, Matsushita mengambil beberapa lembar pamflet Panasonic, lalu membuat topi dengan kertas pamflet itu, lalu membagikannya ke pengunjung. Hal ini kemudian ditiru oleh para stafnya. Ternyata ada efek yang tak lazim dari kegiatan ini. Topi kertas berlogo Panasonic itu tetap dipakai pengunjung dalam perjalanan pulang, sehingga menjadi semacam media iklan. Kemudian pihak museum secara resmi menyediakan topi kertas berlogo Panasonic.

Pelajaran dari Matsuhita: perlakukan manusia dengan baik dalam berbisnis.

~Adi~

    Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita (Panasonic) group, adalah sosok yang kharismatis. Salah satu ucapan dia yang terknal adalah “Perusahaan yang memproduksi barang adalah perusahaan yang mengasuh manusia” (mono wo tsukuru kaisha wa hito wo sodateru kaisha). Artinya dia menempatkan manusia sebagai sentral dalam pengembangan perusahaan/bisnisnya. Itulah yang dia tunjukkan dalam berbagai episode kehidupannya.

Ada cerita yang sudah cukup sering ditulis di sana sini, tentang bagaimana Matsushita memilih untuk tidak mengurangi karyawan saat krisis ekonomi yang sangat dahsyat tahun 1929. Ia mengurangi produksi dengan mengurangi jam kerja karyawan, dan tetap membayar upah mereka. Menjamin karyawan dan keluarganya bisa tetap bertahan hidup di tengah krisis.

Di kemudian hari para karyawan yang dia selamatkan ini menyelamatkan dirinya. Saat Jenderal Mc Arthur menguasai Jepang, dia menahan banyak pengusaha yang terlibat dalam produksi senjata selama perang. Sebagian dari pengusaha ini melakukan hal itu karena terpaksa, di bawah tekanan rezim militer. Matsushita termasuk di antaranya. Tapi para karyawan yang diselamatkan tadi membuat petisi, meminta Matsushita dibebaskan. Akhirnya petisi ini dikabulkan.

Ada lagi cerita menarik yang saya dengar melalui sebuah stasiun TV Jepang. Suatu hari Matsushita hendak menghadiri sebuah pertemuan bisnis penting. Iya hendak menggunakan mobil, tapi sopirnya belum datang. Ia menunggu cukup lama sampai akhirnya sopir itu datang. Akibatnya ia terlambat sampai ke tempat pertemuan.

Matsushita marah besar dengan kejadian ini. Ia mengumumkan bahwa kejadian ini memalukan dan tak boleh terulang. Agar tak terulang, harus ada yang dihukum potong gaji (kalau tak salah potong sebulan gaji). Siapa yang dihukum? Ketika keputusan diumumkan, banyak orang terkejut. Ternyata Matsushita sendirilah yang dipotong gajinya. “Yang terlambat hadir di pertemuan itu saya, bukan sopir saya. Saya punya kewajiban mencari jalan agar tidak terlambat ketika sopir saya berhalangan.” begitu alasan yang dia berikan.

Di saat lain diceritakan Matsushita sedang mengamati pengunjung yang antri hendak masuk ke sebuah museum Panasonic. Terjadi antrian panjang di bawah cuaca yang cukup panas. Karena kasihan melihat pengunjung yang kepanasan itu, Matsushita mengambil beberapa lembar pamflet Panasonic, lalu membuat topi dengan kertas pamflet itu, lalu membagikannya ke pengunjung. Hal ini kemudian ditiru oleh para stafnya. Ternyata ada efek yang tak lazim dari kegiatan ini. Topi kertas berlogo Panasonic itu tetap dipakai pengunjung dalam perjalanan pulang, sehingga menjadi semacam media iklan. Kemudian pihak museum secara resmi menyediakan topi kertas berlogo Panasonic.

Pelajaran dari Matsuhita: perlakukan manusia dengan baik dalam berbisnis.

Seks dalam Masyarakat Jepang

                                               Foto: Seks dalam Masyarakat Jepang 

Salah satu acara TV yang dulu pernah ada di Jepang adalah Kissiya. Ini singkatan dari kisu dake jya, iya. Artinya kalau diterjemahkan dalam bahasa gaul “kalau cuma cium sih, ogah”. Isi acara ini, seperti dari namanya, adalah liku-liku hubungan seksual. Acara diasuh oleh komedian kawakan, Shinnosuke Shimada.

Acara dikemas dalam format talk show, dipadu sedikit dengan reality. Biasanya ada seseorang, atau pasangan yang mengadukan masalah seksual yang dia hadapi, lalu program itu membantu menyelesaikan masalahnya. Tentu saja format acara secara keseluruhan mengalir secara kocak, karena dipandu oleh seorang pelawak.

Salah satu cerita di acara itu yang masih saya ingat adalah tentang seorang gadis berusia sekitar 23 tahun. Dia sudah punya pacar. Dan dia masih perawan. Dia merasa sudah tidak patut untuk tetap perawan di usia tersebut. Dia ingin melakukan hubungan seks, tapi bingung bagaimana memulainya. Bingung, sekaligus takut. Juga malu untuk mengkomunikasikannya dengan sang pacar.

Melalui beberapa perbincangan lucu akhirnya si gadis berhasil diyakinkan bahwa hubungan seks, termasuk yang pertama kali harus berjalan secara natural tanpa tekanan. Tentu saja disertai nasehat konyol kepada si pacar, tentang bagaimana seks yang pertama kali harus dilakukan.

Acara ini bagi saya informatif. Dalam arti dari acara tersebut saya mendapat gambaran tentang presepsi orang Jepang terhadap seks, serta bagaimana peri laku mereka. Secara umum saya melihat orang Jepang sekarang seperti OKB dalam hal seks. Iklim seks bebas sudah ada. Artinya sudah lazim orang melakukan hubungan seks tanpa ikatan pernikahan. Tapi pada saat yang sama, orang-orang Jepang itu tipikal orang Asia yang masih pemalu.

Kebebasan dalam hal hubungan seksual di masyarakat Jepang saya rasakan saat saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan seorang teman. Satu-satunya resepsi pernikahan yag saya hadiri selama saya di Jepang. Di acara itu disajikan presentasi tentang sejarah hubungan kedua mempelai hingga mereka ke pelaminan. Menjelang akhir presentasi ditunjukkan foto hasil tes urin yang menunjukkan mempelai perempuan positif hamil, yang kemudian membuat pasangan ini memutuskan untuk menikah.

Saya masih menemukan istilah dekichatta kekkon, pernikahan karena si perempuan terlanjur hamil. Adanya istilah ini sebenarnya menunjukkan sisa-sisa iklim konservatif, di mana kehamilan atau hubungan seksual seharusnya dilakukan sebelum pernikahan. Tapi nampaknya istilah ini akan berganti menjadi dekita kekkon. Dekichatta adalah bentuk non-formal dari dekite simatta. Ungkapan dengan tte-shimatta biasanya untuk menunjukkan sesuatu tidak diinginkan, terlanjur, dan juga tidak terlalu baik. Dekita, merujuk pada kehamilan bermakna lebih datar, hanya kehamilan biasa, bukan sesuatu yang patut disesali. Bergesernya ungkapan dari dekichatta kekkon menjadi dekita kekkon menunjukkan pergeseran presepsi masyarakat terhadap hubungan seksual pra nikah.

Anak-anak muda Jepang memang sudah menganggap hubungan seks di luar nikah sebagai hal yang lumrah. Para orang tua nampaknya masih setengah-setengah. Dalam arti, sebagian masih ingin agar tradisi lama dijaga, tapi tak kuasa menahan gempuran arus kebebasan.

Yang mengkhatawirkan adalah euforia kebebasan yang berlebih. Yaitu kebebasan tanpa batas, seperti hubungan seks di usia dini. Konon, anak-anak di Jepang sudah mulai berhubungan seks sejak usia SMP. Juga, karena seks belum jadi topik pembicaraan terbuka, banyak anak muda melakukan hubungan seks tanpa pengetahuan, sehingga gampang terjerumus pada seks yang tidak sehat.

Ini masih ditambah dengan masalah pelacuran tak resmi, di mana anak-anak perempuan muda berhubungan dengan laki-laki yang lebih tua untuk mendapatkan imbalan uang, yang disebut dengan istilah enjyo kousai.

Saya tak tahu persis, sejak kapan masyarakat Jepang menjadi bebas dalam hal seks. Dugaan saya erat ini terjadi bersamaan dengan berkembangnya ekonomi Jepang sejak akhir dekade 60-an, hingga ke masa booming tahun 80-an.

Tak banyak saya lihat institusi atau regulasi yang mengontrol kebebasan seksual di Jepang. Penerbitan majalah/buku yang memuat gambar telanjang demikian bebas. Demikian pula video porno. dulu sekitar tahun 1997 kita sudah bisa menemukan buku/majalah yang memuat gambar telanjang dijual bebas di convenient store. Untuk membeli memang dibatasi bagi usia 20 tahun ke atas. Tapi karena tidak disegel, siapa saja bisa melihat isi majalah itu di toko tersebut. Belakangan diberlakukan aturan wajib segel.

Adapun pelacuran, secara resmi hukum Jepang melarangnya. Dalam arti, layanan seksual yang membolehkan intercourse. Tapi tidak ada larangan bagi yang diluar itu, seperti layanan oral seks. Layanan prostitusi di Jepang biasanya disertai dengan term and condition bahwa layanan intercourse tidak diberikan. Tapi siapa yang menjamin hal itu tidak terjadi?

~Adi~

     Salah satu acara TV yang dulu pernah ada di Jepang adalah Kissiya. Ini singkatan dari kisu dake jya, iya. Artinya kalau diterjemahkan dalam bahasa gaul “kalau cuma cium sih, ogah”. Isi acara ini, seperti dari namanya, adalah liku-liku hubungan seksual. Acara diasuh oleh komedian kawakan, Shinnosuke Shimada.

Acara dikemas dalam format talk show, dipadu sedikit dengan reality. Biasanya ada seseorang, atau pasangan yang mengadukan masalah seksual yang dia hadapi, lalu program itu membantu menyelesaikan masalahnya. Tentu saja format acara secara keseluruhan mengalir secara kocak, karena dipandu oleh seorang pelawak.

Salah satu cerita di acara itu yang masih saya ingat adalah tentang seorang gadis berusia sekitar 23 tahun. Dia sudah punya pacar. Dan dia masih perawan. Dia merasa sudah tidak patut untuk tetap perawan di usia tersebut. Dia ingin melakukan hubungan seks, tapi bingung bagaimana memulainya. Bingung, sekaligus takut. Juga malu untuk mengkomunikasikannya dengan sang pacar.

Melalui beberapa perbincangan lucu akhirnya si gadis berhasil diyakinkan bahwa hubungan seks, termasuk yang pertama kali harus berjalan secara natural tanpa tekanan. Tentu saja disertai nasehat konyol kepada si pacar, tentang bagaimana seks yang pertama kali harus dilakukan.

Acara ini bagi saya informatif. Dalam arti dari acara tersebut saya mendapat gambaran tentang presepsi orang Jepang terhadap seks, serta bagaimana peri laku mereka. Secara umum saya melihat orang Jepang sekarang seperti OKB dalam hal seks. Iklim seks bebas sudah ada. Artinya sudah lazim orang melakukan hubungan seks tanpa ikatan pernikahan. Tapi pada saat yang sama, orang-orang Jepang itu tipikal orang Asia yang masih pemalu.

Kebebasan dalam hal hubungan seksual di masyarakat Jepang saya rasakan saat saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan seorang teman. Satu-satunya resepsi pernikahan yag saya hadiri selama saya di Jepang. Di acara itu disajikan presentasi tentang sejarah hubungan kedua mempelai hingga mereka ke pelaminan. Menjelang akhir presentasi ditunjukkan foto hasil tes urin yang menunjukkan mempelai perempuan positif hamil, yang kemudian membuat pasangan ini memutuskan untuk menikah.

Saya masih menemukan istilah dekichatta kekkon, pernikahan karena si perempuan terlanjur hamil. Adanya istilah ini sebenarnya menunjukkan sisa-sisa iklim konservatif, di mana kehamilan atau hubungan seksual seharusnya dilakukan sebelum pernikahan. Tapi nampaknya istilah ini akan berganti menjadi dekita kekkon. Dekichatta adalah bentuk non-formal dari dekite simatta. Ungkapan dengan tte-shimatta biasanya untuk menunjukkan sesuatu tidak diinginkan, terlanjur, dan juga tidak terlalu baik. Dekita, merujuk pada kehamilan bermakna lebih datar, hanya kehamilan biasa, bukan sesuatu yang patut disesali. Bergesernya ungkapan dari dekichatta kekkon menjadi dekita kekkon menunjukkan pergeseran presepsi masyarakat terhadap hubungan seksual pra nikah.

Anak-anak muda Jepang memang sudah menganggap hubungan seks di luar nikah sebagai hal yang lumrah. Para orang tua nampaknya masih setengah-setengah. Dalam arti, sebagian masih ingin agar tradisi lama dijaga, tapi tak kuasa menahan gempuran arus kebebasan.

Yang mengkhatawirkan adalah euforia kebebasan yang berlebih. Yaitu kebebasan tanpa batas, seperti hubungan seks di usia dini. Konon, anak-anak di Jepang sudah mulai berhubungan seks sejak usia SMP. Juga, karena seks belum jadi topik pembicaraan terbuka, banyak anak muda melakukan hubungan seks tanpa pengetahuan, sehingga gampang terjerumus pada seks yang tidak sehat.

Ini masih ditambah dengan masalah pelacuran tak resmi, di mana anak-anak perempuan muda berhubungan dengan laki-laki yang lebih tua untuk mendapatkan imbalan uang, yang disebut dengan istilah enjyo kousai.

Saya tak tahu persis, sejak kapan masyarakat Jepang menjadi bebas dalam hal seks. Dugaan saya erat ini terjadi bersamaan dengan berkembangnya ekonomi Jepang sejak akhir dekade 60-an, hingga ke masa booming tahun 80-an.

Tak banyak saya lihat institusi atau regulasi yang mengontrol kebebasan seksual di Jepang. Penerbitan majalah/buku yang memuat gambar telanjang demikian bebas. Demikian pula video porno. dulu sekitar tahun 1997 kita sudah bisa menemukan buku/majalah yang memuat gambar telanjang dijual bebas di convenient store. Untuk membeli memang dibatasi bagi usia 20 tahun ke atas. Tapi karena tidak disegel, siapa saja bisa melihat isi majalah itu di toko tersebut. Belakangan diberlakukan aturan wajib segel.

Adapun pelacuran, secara resmi hukum Jepang melarangnya. Dalam arti, layanan seksual yang membolehkan intercourse. Tapi tidak ada larangan bagi yang diluar itu, seperti layanan oral seks. Layanan prostitusi di Jepang biasanya disertai dengan term and condition bahwa layanan intercourse tidak diberikan.

Agama Orang Jepang


                              

    Di sekolah kita diajarkan bahwa agama (mayoritas) orang Jepang adalah Shinto dan Budha. Informasi ini tidak salah. Hanya saja bisa menimbulkan salah paham kalau kita membayangkan agama itu dihayati dan dijalankan seperti di Indonesia.

Kalau ditanya soal agama orang Jepang modern cenderung mengaku tidak beragama (musyukyo). Mereka juga sering mengungkapkannya dengan cara lain. “Nihonjin wa syukyo ni mukanshin.” (Orang Jepang tidak punya minat pada agama.). Saya melihat orang Jepang tidak beragama dalam arti tidak terikat pada suatu agama tertentu (organized religion).

Di Jepang kita bisa menemukan banyak sekali tempat ibadah, yaitu kuil Budha (otera) dan kuil Shinto (jinja). Tapi kita tidak akan menemukan orang-orang yang secara berkala melakukan ritual ibadah di situ. Paling-paling mereka melakukan ritual secara insidental, misalnya saat tahun baru.

Lebih penting lagi, mereka tidak terikat untuk melulu melakukan ibadah menurut tata cara salah satu agama. Saat kelahiran anak orang Jepang membawanya ke jinja untuk upacara Omiya-mairi (お宮参り). Demikian pula saat anak berumur 3, 5, dan 7 tahun, ada ritual Shichigosan (七五三)yang dilakukan di jinja. (Sichigosan artinya tujuh lima tiga.) Tapi saat meninggal, upacara penguburan dilakukan dengan tata cara Budha di Otera.

Lebih menarik lagi, sekarang ada tren untuk menikah dengan tata cara Kristen. Di hotel-hotel tertentu tersedia kapel. Bukan untuk beribadah, tapi untuk upacara pernikahan. Yang menikah bukan orang yang beragama Kristen. Yang menikahkan juga bukan pendeta. Biasanya cuma orang bule yang bekerja paruh waktu sebagai tukang menikahkan. Saat Natal orang Jepang membeli dan makan Christmas cake, tapi mereka tidak ke gereja.

Tentu saja ada sebagian kecil orang Jepang yang menekuni agama secara serius. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa orang Jepang itu tidak beragama. Perlu ditambahkan bahwa hari-hari libur nasional Jepang tidak ada yang merupakan hari libur keagamaan. Bahkan hari Natal sekalipun di Jepang bukan hari libur.

Bagaimana dengan Islam? Jumlah orang Islam cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Ini diiringi dengan meningkatnya jumlah mesjid. Beberapa kota besar seperti Tokyo, Kobe, Nagoya, dan Fukuoka sudah memiliki mesjid.

Orang Islam di Jepang umumnya adalah imigran dari negara-negara berpenduduk muslim, seperti Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan lain-lain. Sebagian datang sebagai mahasiswa, kemudian bekerja. Juga ada yang datang sebagai pekerja maupun pengusaha. Beberapa dari mereka menikah dengan orang Jepang, dan pasangannya ini masuk Islam. Juga ada beberapa orang Jepang yang masuk Islam atas kemauan sendiri. Tapi jumlahnya tidak banyak.

Senin, 23 September 2013

Ini Dia Alasan Mengapa Orang Jepang Selalu Tepat Waktu

                    Foto: Ini Dia Alasan Mengapa Orang Jepang Selalu Tepat Waktu

Menurut Edward Hall seorang ahli Antropologi berkebangsaan Amerika, orang Jepang termasuk dalam kategori Monocronic Time (M-Time). Sebaliknya, jika mengacu pada ciri-ciri Polycronic Time (P-Time), maka orang Indonesia masuk dalam kategori ini. Orang-orang dalam kategori P-Time, bisa mengerjakan lebih dari satu kegiatan dalam satu waktu. Dan lebih mementingkan hubungan kemanusiaannya. Sedangkan orang Jepang yang termasuk dalam kategori M-Time, biasa mengerjakan kegiatan tunggal dalam satu waktu, dikerjakan dengan runtut sesuai tahapan, dengan begitu hasilnya sangat berkualitas tinggi.

Dalam kesehariannya, memang terbukti orang Jepang memandang dengan memberikan nilai tinggi terhadap waktu. Karena itu, mereka tidak pernah meleset, bisa mewujudkan dari apa yang pernah direncanakan. Bagaimana dengan kita yang tergolong dalam kategori P-time itu? Sebagai ilustrasinya, misalnya, kalau janjian dengan seseorang, ditengah perjalanannya bertemu dengan teman lain, waktu bisa “terbuang’ semenit atau dua menit tuk sekedar menyapa. Beda dengan orang Jepang, kegiatan menyapa itu hanya dengan anggukan kecil waktu berpapasan ditambah juga perilaku khas yang ditujukkan pada wajah dan cara jalan, semuanya bisa tertangkap oleh orang lain, kalau orang tersebut itu dalam keadaan punya waktu yang tak banyak. Dan perilaku ketergesaan itu sangat dihargai dan dimaklumi oleh semua orang.

Oleh sebab itu jika sampai terjadi keterlambatan, orang Jepang akan membuat alasan dengan menyalahkan diri sendiri, bukan karena bis atau penyebab lain diluar dirinya. Kembali pada rasa malunya dilihat banyak orang, jika sampai diri sendiri ditegur orang lain, karena keterlambatannya. Karena itu tingkat stress dalam hal mengejar waktu ini tinggi. Bagaimana menurut JS family?

~Adi~
       Menurut Edward Hall seorang ahli Antropologi berkebangsaan Amerika, orang Jepang termasuk dalam kategori Monocronic Time (M-Time). Sebaliknya, jika mengacu pada ciri-ciri Polycronic Time (P-Time), maka orang Indonesia masuk dalam kategori ini. Orang-orang dalam kategori P-Time, bisa mengerjakan lebih dari satu kegiatan dalam satu waktu. Dan lebih mementingkan hubungan kemanusiaannya. Sedangkan orang Jepang yang termasuk dalam kategori M-Time, biasa mengerjakan kegiatan tunggal dalam satu waktu, dikerjakan dengan runtut sesuai tahapan, dengan begitu hasilnya sangat berkualitas tinggi.

Dalam kesehariannya, memang terbukti orang Jepang memandang dengan memberikan nilai tinggi terhadap waktu. Karena itu, mereka tidak pernah meleset, bisa mewujudkan dari apa yang pernah direncanakan. Bagaimana dengan kita yang tergolong dalam kategori P-time itu? Sebagai ilustrasinya, misalnya, kalau janjian dengan seseorang, ditengah perjalanannya bertemu dengan teman lain, waktu bisa “terbuang’ semenit atau dua menit tuk sekedar menyapa. Beda dengan orang Jepang, kegiatan menyapa itu hanya dengan anggukan kecil waktu berpapasan ditambah juga perilaku khas yang ditujukkan pada wajah dan cara jalan, semuanya bisa tertangkap oleh orang lain, kalau orang tersebut itu dalam keadaan punya waktu yang tak banyak. Dan perilaku ketergesaan itu sangat dihargai dan dimaklumi oleh semua orang.

Oleh sebab itu jika sampai terjadi keterlambatan, orang Jepang akan membuat alasan dengan menyalahkan diri sendiri, bukan karena bis atau penyebab lain diluar dirinya. Kembali pada rasa malunya dilihat banyak orang, jika sampai diri sendiri ditegur orang lain, karena keterlambatannya. Karena itu tingkat stress dalam hal mengejar waktu ini tinggi.

Tips Buat Cosplayers Yang Ingin GO INTERNATIONAL

   Sederet prestasi sudah kamu raih sebagai cosplayers di dalam negeri. Untuk menambah pengalamanmu, cobalah untuk mengikuti ajang cosplay di luar negeri. Cobalah mulai untuk mengikuti kompetisi cosplay di negara tetangga seperti Singapura, Malaysia ataupun Filipina, sebelum ke negara Jepang yang merupakan negara pencetus cosplay. Kondisi mengikuti event di negeri sendiri tentu berbeda dengan di luar negeri, sekalipun masih negara tetangga.

Berikut tips dan persiapan yang JS kutip dari artikel yang ditulis oleh Zhuge Kamiya yang mewakili Indonesia di World Cosplay Summit (WCS) 2012 di Jepang.

Persiapan Pribadi

1. Siapkan dana

Transportasi dana ini mencangkup dana keberangkatan hingga kepulangan, transportasi selama berada di negara tujuan dan persipkan dana cadangan untuk transport lainnya.
Akomadasi (biaya penginapan dan makan)
Kompetisi (biaya pendaftaran atau keperluan yang dibutuhkan saat berada di lokasi event)
Lain-lain (biaya ekstra diluar keperluan diatas seperti oleh-oleh, rekreasi, dll)
2. Buat to-do-list agar jangan sampai ada hal yang lupa dilakukan atau yang lupa dibawa

3. Pastikan mendapat izin dari orang tua

4. Hubungi teman atau keluarga yang tinggal di negara tujuan, siapa tahu mereka bisa membantu dalam biaya akomadi dan transportasi

5. Dapatkan kontak pihak kedutaan (KBRI) di negara tujuan

6. Pastikan dalam keadaaan sehat, lakukan medical check up sebelum keberangkatan

7. Scan dokumen penting seperti passport, tiket pesawat,dll. Untuk persiapan jika terjadi kehilangan

8. Siapkan kamus sesuai bahasa yang digunakan oleh negara tujuan

9. Pisahkan uang yang dibawa, antara uang keperluan sehari-hari dan uang cadangan.



Transportasi

1. Usahakan harga tiket pesawat yang dipesan disusuaikan dengan budget, jika beruntung carilah harga tiket promo.

2. Pastikan jadwal keberangkatan available pada tanggal yang diinginkan

3. Cari informasi transportasi umum yang lebih murah di negara tujuan seperti MRT, bis, taksi, dll

4. Sebaiknya memiliki peta kota untuk mempermudah bepergian

Notes

ikuti aturan penerbangan maskapai, termasuk ukuran tas/koper dan berat bagasi
jangan membawa bahan yang dikemas dalam wadah metal seperti kaleng cat dan lem.
cutter, gunting dan alat metal ringan lainnya wajib disatukan dengan kostum dan dimasukkan ke bagasi.


Akomodasi

1. Cek apakah kamar hotel cukup luas untuk bisa menampung kostum.

2. Cari tahu fasilitas dekat hotel (restaurant, apotek, kafe, mini market, dll)

3. Cari tahu jarak antara tempat menginap dengan lokasi acara, hal ini menyangkut transportasi dan waktu.



Persiapan Event

1. Pastikan secara detail, tempat dan waktu event agar kamu tidak kesulitan menentukan tempat menginap dan transportasi menuju ke lokasi.

2. Tanya-tanya kepada cosplayers yang pernah ikut event serupa sebelumnya. cari tahu kondisi teknis kompetisinya. Kamu sangat perlu pengalaman dari orang yang pernah merasakan atmosfir sebuah kompetisi yang budayanya berbeda dengab kita.

3. Usahakan selalu berkomunikasi dengan contact person kompetisi tersebut, jaga-jaga jika ada perubahan mendadak (event diundur,dll)

4. Minta jadwal acara (rundown) event tersebut

5. Minta surat keterangan dari panitia event bahwa kamu adalah salah satu peserta kompetisi. Surat ini penting saat pengecekan di bandara, terutama jika membawa properti berbentuk senjata asli.

6. Pastikan event tersebut memang menerima peserta dari negara lain.

7. Jika kamu pernah mengikuti event yang sama, maka evaluasi kembali apa yang pernah kamu alami dan aplikasikan sesuai kebutuhan.



Cosplay

1. Usahakan kostum bisa dibongkar pasang menjadi beberapa bagian agar mudah dibawa

2. Bawalah bahan dan peralatan yang hanya dibutuhkan

3. Bungkus bubble warp jika kostum rapuh

4. Beberapa negara melarang replika senjata dari metal masuk kenegaranya. Jika harus melapor terlebih dahulu, maka lakukan jauh hari sebelumnya.

5. Buat daftar barang yang akan dibeli di negara tujuan, ketahui harga pasaran disana (jika terdapat barang yang tidak bisa dibawa dari negara asal)

6. Pak barang dan beri nama, agar resiko kehilangan dan tertukar dapt diminimalisir.

7. Makin sedikit kostun dan props yang dibawa, maka makin mudah kamu melakukan persiapan.

8. Siapkan satu tas khusus P3K, kostum satukan dengan kostum yang di pak.

9. Cek kembali hal-hal yang mendukung kompetisi seperti properti, surat-surat, dll

10. Bawa coscard jikang ingin menambah teman


Tips Wawancara Kerja di Jepang

                                   

    Jepang memang menawarkan gaji fresh graduated sangat besar yakni 200.000 yen atau setara dengan 20juta rupiah dengan kepastian kenaikan gaji. Tidak heran banyak mahasiswa Indonesia yang mengadu nasib di negeri sakura tersebut untuk mencari uang.

Terlepas dari besaran gajinya, ada hal-hal yang menjadi dasar penting dalam pencarin kerja di Jepang. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan saat wawancara kerja di Jepang.

1. KEBUTUHAN DASAR

Masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang sangat terikat dengan impresi pertama. Mereka menilai orang dari penampilan luarnya, sebelum mengupas kulit hingga ke dalam intisari orang tersebut. Standar berpakaian dan kebutuhan dasar dalam wawancara di Jepang agar meninggalkan impresi yang baik adalah:

a. Bahasa
Pintar berbahasa inggris tapi hanya tahu arigato dan konichiwa dalam bahasa Jepang? OUT. Pada dasarnya perusahaan Jepang tidak membutuhkan orang yang pintar berbahasa inggris. Eksklusivitas membuat mereka butuh orang yang sanggup berbicara paling tidak mendekati level native. Untuk itu Anda perlu bukti, sertifikat Japanese Language Proficiency Test (JLPT), minimal level 2 dan level 1 untuk standar.

b. Pakaian
Anda diwajibkan mengenakan:

1. Jas (disarankan yang berwarna hitam)
2. Kemeja lengan panjang (disarankan yang berwarna putih atau lembut)
3. Dasi (hanya untuk pria, jangan gunakan dasi warna hijau)
4. Sepatu pantofel (pastikan sepatu Anda bersih dan tersemir, disarankan warna gelap dan untuk wanita tidak boleh menggunakan stileto)
5. Tas punggung/Tote Bag (ukuran a4, hitam)
6. Jam tangan analog
7. Stocking (hanya untuk wanita, gunakan warna gelap dan tanpa motif)



c. Dokumen Penting

Lengkapilah dengan Resume (CV) yang ditulis dalam bahasa Jepang ataupun bahasa Inggris. Pas foto, dilarang menggunakan kacamata dan jangan sampai ada rambut yang menutupi bahu. Anda tidak dilarang untuk tersenyum natural.



d. Lain-lain:

Siapa yang bisa menjamin nama Anda bisa dibaca oleh orang Jepang? Maka dari itu, sediakan kartu nama dengan dua sisi berbeda, satu sisi dengan alfabet, satu sisi dengan huruf kana. Ini bisa mempersingkat waktu perkenalan, sekaligus meningkatkan value Anda di mata orang Jepang. Bawalah note yang tidaka terlalu besar dan catat hal-hal penting yang disampaikan oleh pewawancara. Ini juga memberikan kesan bahwa Anda adalah orang yang sangat terorganisir dan dapat diandalkan.



2. YES OR NO? MANNER DALAM WAWANCARA

Ada istilah HORENSO dalam bahasa Jepang untuk menyebut tiga dasar dalam bekerja di Jepang. Jika diterjemahkan secara langsung, horenso berarti sayur bayam, dan jelas tidak ada hubungannya dalam melamar kerja.

HORENSO disini adalah singkatan dari tiga kata:

1.HO-koku: Laporan, yakni mengabari atasan untuk semua proggress dan masalah.
2.REN-raku: Kontak, yakni tidak pernah lupa menghubungi atasan dan dapat selalu dihubungi.
3. SO-dan: Diskusi, yakni membicarakan masalah dengan atasan atau untuk mendengar advice dari atasan.

Selain itu pun, terdapat hal-hal penting yang YES dan yang NO dalam wawancara kerja, yaitu:

a. YES:
1. Tepat waktu, dalam artian sudah berada di tempat wawancara 5menit sebelumnya.
2. Selidiki baik-baik informasi perusahaan dan juga kompetitor perusahaan tersebut. dengan begitu, Anda bisa memuji perusahaan tersebut dalam wawancara dengan membandingkannya dengan perusahaan kompetitor.
3. Simple, jangan berlebihan dalam make up, jangan warnai rambut, jangan bergaya visual kei, jadilah manusia normal hanya untuk sejenak. Untuk pria, disarankan potongan rambut pendek hitam. Untuk wanita, disarankan rambut kucir kuda atau rambut pendek hitam.
4. Lakukan wawancara di banyak perusahaan. Jangan terpaku pada satu perusahaan saja.
5. Gunakan bahasa sopan tingkat tinggi. Dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah KEIGO. Namun bahasa ini sangat sulit dikuasai, dan jika terpaksa tidak dapat menguasainya, gunakan saja bahasa sopan tingkat standar.

b. NO:
1. Terlambat, apapun alasannya dan berapapun menitnya
2. Bertanya tentang gaji, waktu lembur, dan beban pekerjaan. Jika ingin tahu, tanyakanlah sebelum hari H. Hubungi orang dalam ataupun teman yang bekerja di perusahaan itu.
3. Mengenakan perhiasan berlebihan. Sembunyikan tato dan lepaskan piercing untuk pria.
4. Terlalu bersemangat atau tegang, sehingga banyak menggunakan bahasa tubuh dan berekspresi. Anda akan terlihat tidak dapat dipercaya.
5. Berbohong tentang kemampuan dan karir kepegawaian Anda.

3. KAPAN DAN BAGAIMANA LANGKAH SHUSHOKU KATSUDO?
Shushoku katsudo bahasa kerennya nyari kerja. Di Jepang sebagian besar siswa berburu kerja sebelum lulus dari universitas atau sekolah tinggi. Satu tahun sebelum lulus, diharapkan menawarkan kerja ke perusahaan, dan enam bulan kemudian mereka akan memberikan janji kerja setelah mereka lulus. Mahasiswa Jepang umumnya mulai mencari pekerjaan sekaligus di tahun ketiga mereka. Pemerintah mengizinkan perusahaan untuk memulai proses seleksi dan memberikan penawaran resmi mulai 1 April, pada awal tahun keempat. Pekerjaan ini terutama akan dimulai pada tanggal 1 April tahun berikutnya. Karena proses ini, mencapai posisi yang baik sebagai karyawan biasa pada setiap saat sepanjang tahun, atau di kemudian hari sangat sulit.

Karena perusahaan lebih mengutamakan fresh graduated, siswa yang tidak berhasil dalam mencapai tawaran pekerjaan setelah lulus sering memilih untuk tinggal sekolah selama satu tahun lagi. Hal ini berbeda dengan negara-negara lain, dimana perusahaan umumnya tidak diskriminasi terhadap mereka yang tidak lulus baru. Sebagian besar perusahaan membayar sedikit perhatian ke catatan akademis atau pengalaman universitas siswa, dan lebih memilih untuk melatih karyawan baru sesuai dengan standar perusahaan.

Sebaliknya, calon karyawan di jepang sebagian besar dinilai latar belakang pendidikan mereka. Prestise universitas dan sekolah tinggi bahwa seorang siswa menghadiri memiliki efek yang ditandai pada kemampuan mereka untuk menemukan pekerjaan sama dicari sebagai orang dewasa.

Perusahaan-perusahaan besar khususnya, lebih memilih untuk mempekerjakan lulusan baru universitas bergengsing dalam jumlah besar untuk mengggantikan pensiun pekerja dan laki-laki.

Pantai Khusus Anjing Di Jepang

                              Foto: Pantai Khusus Anjing Di Jepang 

Pantai ini bernama pantai Takeno, pantai ini merupakan salah satu pantai yang pertama di dunia yang memperbolehkan anjing untuk berenang di pantai ini. Bukan berarti manusia tidak boleh berjemur di pantai dan berenang di lautnya, tapi hampir semua orang yang kesana membawa anjing peliharaan kesayangan mereka. Pantai Takeno, yang terletak di Kota Toyooka biasanya selalu ramai dengan anjing-anjing yang bermain air pada musim panas.
Bagi kalian yang mempunyai anjing, wajib mengajak anjing kalian untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama mereka di Pantai Takeno ini. Karena Pada musim panas antara bulan Juni-September, Pantai Takeno terbuka khusus untuk anjing-anjing dan para pemiliknya yang ingin mendinginkan diri di Pantai Takeno ini. 

~Adi~

    Pantai ini bernama pantai Takeno, pantai ini merupakan salah satu pantai yang pertama di dunia yang memperbolehkan anjing untuk berenang di pantai ini. Bukan berarti manusia tidak boleh berjemur di pantai dan berenang di lautnya, tapi hampir semua orang yang kesana membawa anjing peliharaan kesayangan mereka. Pantai Takeno, yang terletak di Kota Toyooka biasanya selalu ramai dengan anjing-anjing yang bermain air pada musim panas.

Bagi kalian yang mempunyai anjing, wajib mengajak anjing kalian untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama mereka di Pantai Takeno ini. Karena Pada musim panas antara bulan Juni-September, Pantai Takeno terbuka khusus untuk anjing-anjing dan para pemiliknya yang ingin mendinginkan diri di Pantai Takeno ini. 

Kebiasaan Senam Harian Di Jepang

Radio Taisou: Kebiasaan Senam Harian Di Jepang

              Foto: Radio Taisou: Kebiasaan Senam Harian Di Jepang

Setiap pagi pukul 6.30, Radio NHK memainkan sebuah lagu khusus dan mendorong seluruh warga Jepang dimana-mana untuk untuk berkumpul bersama untuk melakukan olah tubuh khusus selama 5-10 menit. Masyarakat berkumpul di taman-taman lokal, karyawan di kantor datang lebih awal untuk berolahraga sebelum hari kerja dimulai, dan anak-anak yang pergi ke sekolah lebih awal untuk berlatih bersama tim olah raga mereka bergabung bersama untuk latihan. Pada musim panas, sekolah-sekolah, para orang tua dan berbagai komunitas mendorong anak-anak muda untuk bergegas menuju taman-taman lokal dan berpartisipasi dalam latihan pagi tersebut. Di banyak daerah, seorang instruktur relawan akan memberi cap pada kartu partisipasi untuk tiap pagi seorang anak datang pada sesi di musim panas; jika cap pada kartu seorang anak telah penuh, maka anak itu akan mendapatkan sebuah hadiah partisipasi.

Olah tubuh pagi itu disebut “radio taisou” atau “radio calisthenics” (senam radio). Ada juga versi sore hari ini untuk olah tubuh ini yang disiarkan pada pukul 3.00 sore. Beberapa perusahaan akan menyuruh para karyawan mereka untuk menghentikan apapun yang tengah mereka kerjakan untuk berdiri dan melakukan olah tubuh itu. Terdapat dua macam olah tubuh: untuk mereka yang lebih muda dan enerjik, dan untuk orang lain selain itu. Latihan dasarnya sebagian besar merupakan rutinitas peregangan, pemanasan sederhana untuk memperlancar aliran darah dan pikiran lebih tajam untuk hari itu. Pada sebagian besar lokasi olah tubuh, seorang relawan akan memimpin grup di situ dalam latihan. Setelah beberapa hari mengulangi peregangan itu, kita biasanya akan segera hapal gerakan-gerakan yang harus dilakukan dan dapat melakukannya sendiri.

Radio taisou dimulai di Jepang pada tahun 1920-an. Surat kabar The Japan Post dan Radio NHK memulai proyek tersebut, walau mereka mungkin saja terinspirasi dari program senam radio Amerika MetLife yang muncul di sekitar waktu yang bersamaan. Radio taisou berhenti untuk beberapa saat setelah Perang Dunia II, ketika para penjajah Amerika berpikir bahwa massa yang berkumpul untuk melakukan olah tubuh sehari-hari itu terlihat terlalu militeristik. Walau begitu, program tersebut dihidupkan kembali pada tahun 1950-an dan lebih difokuskan untuk latihan dan menguatkan ikatan dengan rekan kerja, teman sekelas, dan anggota masyarakat. Sejak itu lagu untuk senam itu disiarkan terus setiap harinya.

~Adi~

         Setiap pagi pukul 6.30, Radio NHK memainkan sebuah lagu khusus dan mendorong seluruh warga Jepang dimana-mana untuk untuk berkumpul bersama untuk melakukan olah tubuh khusus selama 5-10 menit. Masyarakat berkumpul di taman-taman lokal, karyawan di kantor datang lebih awal untuk berolahraga sebelum hari kerja dimulai, dan anak-anak yang pergi ke sekolah lebih awal untuk berlatih bersama tim olah raga mereka bergabung bersama untuk latihan. Pada musim panas, sekolah-sekolah, para orang tua dan berbagai komunitas mendorong anak-anak muda untuk bergegas menuju taman-taman lokal dan berpartisipasi dalam latihan pagi tersebut. Di banyak daerah, seorang instruktur relawan akan memberi cap pada kartu partisipasi untuk tiap pagi seorang anak datang pada sesi di musim panas; jika cap pada kartu seorang anak telah penuh, maka anak itu akan mendapatkan sebuah hadiah partisipasi.

Olah tubuh pagi itu disebut “radio taisou” atau “radio calisthenics” (senam radio). Ada juga versi sore hari ini untuk olah tubuh ini yang disiarkan pada pukul 3.00 sore. Beberapa perusahaan akan menyuruh para karyawan mereka untuk menghentikan apapun yang tengah mereka kerjakan untuk berdiri dan melakukan olah tubuh itu. Terdapat dua macam olah tubuh: untuk mereka yang lebih muda dan enerjik, dan untuk orang lain selain itu. Latihan dasarnya sebagian besar merupakan rutinitas peregangan, pemanasan sederhana untuk memperlancar aliran darah dan pikiran lebih tajam untuk hari itu. Pada sebagian besar lokasi olah tubuh, seorang relawan akan memimpin grup di situ dalam latihan. Setelah beberapa hari mengulangi peregangan itu, kita biasanya akan segera hapal gerakan-gerakan yang harus dilakukan dan dapat melakukannya sendiri.

Radio taisou dimulai di Jepang pada tahun 1920-an. Surat kabar The Japan Post dan Radio NHK memulai proyek tersebut, walau mereka mungkin saja terinspirasi dari program senam radio Amerika MetLife yang muncul di sekitar waktu yang bersamaan. Radio taisou berhenti untuk beberapa saat setelah Perang Dunia II, ketika para penjajah Amerika berpikir bahwa massa yang berkumpul untuk melakukan olah tubuh sehari-hari itu terlihat terlalu militeristik. Walau begitu, program tersebut dihidupkan kembali pada tahun 1950-an dan lebih difokuskan untuk latihan dan menguatkan ikatan dengan rekan kerja, teman sekelas, dan anggota masyarakat. Sejak itu lagu untuk senam itu disiarkan terus setiap harinya.

1 Dari 3 Pria Muda di Jepang Merasa Tidak Dapat Menikah

       Satu dari tiga pria Jepang berusia 20-an berpikir bahwa mereka tidak mungkin bisa menikah, meskipun mereka tetap ingin melakukannya, dengan sekitar 60 persen menyatakan ketidakamanan ekonomi sebagai alasan utama, seperti yang diungkapkan oleh sebuah survei yang dilakukan oleh sebuah perusahaan asuransi jiwa.

Survei yang dilakukan oleh perusahaan Lifenet Insurance Co. yang berbasis di kota Tokyo ini juga mengungkapkan banyaknya responden yang bersedia untuk mengambil peran aktif dalam hal membesarkan anak.

Ekonomi yang lebih baik dapat mendorong lebih banyak orang untuk menikah, sehingga membantu meningkatkan jumlah anak-anak di negeri ini, seperti yang dikatakan oleh seorang pejabat dari perusahaan itu.

Polling tersebut dilakukan di Internet pada bulan September dan diikuti oleh 450 orang pria berusia 20-an.

Saat ditanya apakah mereka pikir mereka dapat menikah, hanya 27,8 persen yang mengatakan bahwa mereka ingin menikah dan bisa menikah, sementara 35,3 persen mengatakan bahwa mereka tidak ingin menikah.

Proporsi responden yang takut tidak mampu untuk menikah meskipun memiliki keinginan untuk melakukannya mencapai 36,9 persen. Alasan teratas adalah ketidakamanan ekonomi, sebanyak 60,8 persen, dibandingkan dengan 48,2 persen yang mengatakan alasan mereka tidak dapat menikah adalah karena tidak populer dengan wanita.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 87,8 persen dari seluruh responden ingin aktif terlibat dalam hal membesarkan anak. Namun 74,9 persen mengatakan mereka khawatir apakah mereka dapat menghasilkan cukup uang untuk menutupi biaya dalam membesarkan anak seperti biaya pendidikan dan juga biaya hidup bagi anak-anak mereka.

Sebanyak 82,4 persen merasa belum pasti dengan masa depan mereka, namun 89,6 persen mengatakan mereka tidak mengambil langkah-langkah tertentu seperti menabung untuk meredakan kegelisahan mereka.