Rabu, 16 Oktober 2013
Betapa Kurang Romantisnya Di Jepang
[TIPS BUAT COWO JOMBLOH] Cara Membuat Wanita Jepang Kagum
TIPS BUAT CEWE JOMBLO. Cara Memikat Hati Cowo Jepang
1. Perkenalkan diri Anda dengan baik
Artinya, saat pertama kali bertemu dengannya, usahakan bersikap senormal mungkin, tidak perlu bersikap sangat mengganggu atau berlebihan.
2. Jadilah diri sendiri
Terkadang wanita melakukan hal-hal konyol yang membuatnya terlihat bodoh saat sedang jatuh cinta. Hentikan, kendalikan diri kamu. Jadilah diri sendiri, percaya diri dan tunjukkan kepribadian baikmu.
3. Sisi ramah
Kebanyakan pria Jepang mencari wanita yang tidak hanya menyukai mereka secara seksual, tapi juga wanita yang bisa dijadikan teman. Jadi tunjukkan bahwa kamu bisa menjadi sahabatnya. Pria Jepang kebanyakan akan memilih wanita yang bisa mereka percayai untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
4. Percaya diri
Pria Jepang menyukai wanita yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Hal ini tidak berarti bahwa perempuan itu egois atau sombong, tetapi perempuan dapat menunjukkan bahwa dirinya berharga dan mengetahui kelebihan dirinya dibandingkan orang lain.
5. Merasa dibutuhkan
Tidak ada yang membuat pria di negara mana pun lebih bahagia selain merasa dibutuhkan dan diinginkan. Mungkin ada kebutuhan untuk mandiri, namun terkadang wanita juga perlu membiarkan pria merawatnya dan menunjukkan bahwa pria memiliki kemampuan untuk melakukannya.
6. Dengarkan
Tanyakan kepada mereka bagaimana kabar mereka dan kemudian dengarkan apa yang mereka katakan. Jangan ikut campur atau menghakimi. Pria Jepang akan senang jika ada seseorang yang mau mendengarkannya.
7. Penampilan
Tidak ada yang menyukai gadis yang berantakan. Berpenampilan jorok, tidak menjaga diri, dan berpakaian sembarangan akan membuat pria Jepang tampil buruk. Jadi pastikan untuk memikirkan penampilan Anda.
Manfaat Ocha, Teh Hijau ala Jepang
Meski upacara minum teh sudah tidak populer lagi di Jepang, teh hijau masih menjadi bagian dari gaya hidup Jepang modern dan menjadi minuman yang paling tepat sambil menikmati kue khas jepang.
Teh hijau merupakan jenis teh yang dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat Jepang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika teh hijau hanya disebut "teh" atau "ocha" dalam bahasa Jepang. Produksi teh dan tradisi konsumsi teh dimulai pada zaman Heian, setelah teh dibawa ke Jepang oleh para duta besar kaisar yang dikirim ke Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Literatur klasik Nihon Koki yang ditulis tentang Kaisar Saga sangat terkesan dengan teh yang disajikan oleh seorang pendeta bernama Eichu saat ia mengunjungi Provinsi Omi pada tahun 815.
Saat itu, teh masih berupa produk
fermentasi setengah matang, mirip dengan teh oolong yang kita kenal sekarang.
Teh ini dibuat dengan cara direbus dalam air panas dan hanya dinikmati di
beberapa kuil Buddha. Karena teh hanya dinikmati oleh kalangan terbatas,
kebiasaan meminumnya tidak pernah menjadi populer. Pada masa Kamakura, pendeta
Myoani Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di Jepang dan sekaligus
memperkenalkan matcha (bubuk teh hijau) yang mereka bawa dari Tiongkok sebagai
obat. Sejak saat itu, berbagai aliran upacara minum teh berkembang dan
jumlahnya kini mencapai lebih dari 30 aliran.
Meskipun upacara minum teh kini tidak lagi dilakukan setiap hari, budaya minum ocha, baik sebagai minuman maupun untuk keperluan lain, masih dipraktikkan di masyarakat Jepang. Setidaknya ada beberapa jenis ocha yang populer di Jepang, seperti Matcha, Konacha, Sencha, dan Gyokuro, Sencha merupakan jenis ocha yang paling umum dikonsumsi oleh orang Jepang, sedangkan Gyokuro merupakan jenis ocha yang paling mahal karena rasanya yang lebih nikmat.
Selain karena keterkaitan dengan budaya masa lalu, ada pula faktor sejarah dan manfaat yang membuat orang Jepang masih setia mengonsumsi ocha hingga kini. Ocha sudah lama dikenal mengandung bahan-bahan yang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan manusia. Seperti yang dilaporkan Herald Tribune pada awal Agustus lalu, para model kelas dunia mulai kecanduan dengan minuman yang memanjakan mata. Pasalnya, Ocha dapat memberikan efek relaksasi di tengah padatnya pekerjaan sebagai model.
Selain itu, Ocha juga dapat
dipadukan dengan madu atau bunga sakura untuk meningkatkan efek relaksasi.
Kini, Ocha tidak hanya dikonsumsi sebagai olahan, konsumsi minuman, atau
sebagai pelengkap makanan. Banyak kuliner populer lainnya yang diolah dengan
Ocha. Matcha, misalnya, pada musim ini kerap digunakan untuk membuat es krim,
kue, dan semifreddo yang dipadukan dengan buah atau makanan. Matcha merupakan
bubuk daun Ocha yang dulunya kerap digunakan dalam upacara minum teh.
Inemuri, Bukti Kerja Keras Di Jepang

Bangsa Jepang memiliki penilaian tersendiri untuk mengartikan tidur di tengah pekerjaan atau meeting, baik itu urusan bisnis atau pemerintahan. Mereka memiliki sebuah istilah yang disebut Inemuri. Secara harafiah, Inemuri berarti “tidur sesaat”. Ketika seseorang “ber-inemuri”, mereka memandangnya sebagai akibat dari kerja keras dan pengorbanan setelah bekerja hingga larut malam. Karena itu, tidak sedikit orang yang berpura-pura tertidur agar dinilai berkomitmen dengan pekerjaan mereka.
Konsep penilaian ini mungkin sedikit aneh. Namun, Dr Neil Stanley, seorang ahli di Norfolk and Norwich University Hospital, berpendapat cara bangsa Jepang menilai tidur-saat-bekerja lebih baik dari bangsa lain.
“Bangsa Jepang benar tentang penilaian bahwa seseorang bekerja lebih baik setelah tidur sesaat karena ada taraf kedewasaan di dalamnya” ujar Neil kepada BBC. Ia setuju, bekerja keras hingga larut malam dan tertidur saat bekerja lebih “dewasa” dibanding cara umum; terlambat menyelesaikan dimaklumi sebagai tanda beratnya pekerjaan yang harus diselesaikan.
Secara sederhana, bisa dikatakan bangsa Jepang lebih menoleransi tertidur beberapa menit saat bekerja dibanding keterlambatan menyelesaikan pekerjaan, betapa pun beratnya pekerjaan yang harus diselesaikan.
Namun, perlu diketahui bahwa tidur sesaat yang dimaksud dalam inemuri bukan tidur bebas dan sembarang. Inemuri juga memiliki peraturan yang ketat, termasuk siapa saja yang “pantas” melakukannya atau bagaimana cara melakukannya. Siapa yang dianggap pantas? mereka yang memegang jabatan tinggi dalam perusahaan atau pemerintahan. Caranya? dengan menjaga posisi tubuh tetap tegak sehingga tampak tetap terlibat dalam rapat, atau pekerjaan. Peraturan ini tidak tertulis di manapun, tapi semua mengetahuinya karena mereka belajar berdasarkan adat istiadat.
Sumber : continentalmachinerymovers.wordpress.com
Mengenal Sejarah Bento, Bekal Nasi Asal Jepang

Sejak
tahun 1568 hingga 1600, masyarakat Jepang mulai mengenal gaya hidup makan di
luar ruangan. Makanan yang dibawa diletakkan di dalam kotak kayu yang dicat.
Kebiasaan ini kemudian dikenal dengan kebiasaan makan dalam upacara minum teh atau
hanami. kemudian, pada zaman Edo, antara tahun 1600 hingga 1800, budaya bento
semakin populer di kalangan masyarakat Jepang. Kala itu, saat bepergian atau
traveling, masyarakat Jepang membawa bekal makan genggam atau kantong bento di
punggung. Bento yang dibawa disebut koshibokento. Koshibokento yang umum adalah
onigiri. Kala itu, ada pula jenis bento yang disebut dengan Makunouchi bento.
Disebut demikian karena bento dibawa untuk menonton pertunjukan Noh dan Kabuki
lalu disantap dalam maki atau suasana yang berbeda.
Sedikit
demi sedikit, kebiasaan membawa bento pun menyebar. Oleh karena itu, bento
sangat digemari oleh para pelajar. Ia pun mulai bersekolah dengan membawa
bento. Semenjak tahun 1912 hingga 1926, selama Perang Dunia Pertama, praktik
membawa bento dihentikan ketika gerakan sosial melarang makan siang di sekolah.
Dipercaya bahwa ini telah menjadi tempat memamerkan kekayaan sehingga
menciptakan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin.
Kemudian,
pada tahun 1980-an, bento menjadi populer lagi dan banyak toko telah menjualnya
sejak saat itu. Isi bento mulai bervariasi, bukan hanya onigiri. Mereka
menawarkan berbagai hidangan bento. Kemudian kita mulai membuat bento dan
menghiasnya dengan gajah dan pelangi. Ibu rumah tangga menjadi kreatif dalam
hal menyiapkan bento sebagai gantinya. Bento tidak lagi hanya sereal dan lauk
dalam kotak, mereka dibentuk seperti binatang, buah-buahan atau karakter kartun
yang lucu.
Boneka Penangkal Hujan ala Jepang

Teru teru bōzu (てるてる坊主) adalah boneka tradisional buatan tangan yang terbuat dari kertas atau kain putih yang oleh petani Jepang petama mulai digantung di luar jendela mereka dengan benang. Azimat (jimat) ini memiliki kekuatan magis membuat cuaca menjadi baik dan untuk menghentikan atau mencegah hujan.”Teru” adalah kata kerja dalam bahasa jepang yang menjelaskan bercahaya, atau baik (cuaca) dan “bōzu” adalah Buddha rahib, atau jika dalam slang artinya “gundul.”
Teru teru bōzu menjadi populer selama periode Edo, anak-anak membuat teru-teru-bōzu dari kertas tisu atau kapas dan benang/senar dan menggantungkan boneka ini di jendela karena ingin cuaca yang cerah, sering dilakuan sebelum hari piknik sekolah. Jika digantung terbalik dengan kepala dibawah maka kerjanya seperti doa untuk hujan. Jadi jangan sampai salah membalik.
Ada warabe Uta (lagu anak-anak) yang terkenal, atau Japan nursery rhyme, terkait dengan teru teru bozu:
dalam tulisan Jepang dan di roman-kan:
てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれいつかの夢の空のように晴れたら金の鈴あげよ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo
てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれ私の願いを聞いたなら甘いお酒をたんと飲ましょ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomasho
てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれもしも曇って泣いてたらそなたの首をちょんと切るぞ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Moshi mo kumotte naitetara
Sonata no kubi wo chon to kiru zo
Translation:
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Seperti langit dalam mimpi
jika cuacanya cera Saya akan memberikan Anda bel emas
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Jika Anda ingin membuatnya menjadi kenyataan
Kami akan banyak minum sake manis
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Tetapi jika mendung dan anda menangis (hujan)
Lalu aku akan memotong putus kepalamu.
Lagu, ditulis oleh Kyoson Asahara dan disusun oleh Shinpei Nakayama, dirilis pada 1921. Seperti banyak sajak kanak-kanak, lagu ini dikabarkan memiliki sejarah yang lebih gelap daripada yang pertama kali muncul. Ini diduga berasal dari sebuah kisah tentang seorang biksu yang berjanji petani untuk menghentikan hujan dan membawa cuaca cerah selama periode berkepanjangan hujan yang merusak tanaman.
Ketika biarawan gagal untuk membawa sinar matahari, ia dihukum mati. Namun, percaya cerita ini dan lain-lain mengenai asal-usul Teru Teru bozu mungkin berasal dari tradisi lama setelah menjadi luas, kemungkinan besar dalam upaya untuk memperbaiki Citra boneka. Hal ini lebih mungkin bahwa “bōzu” dalam nama tidak menunjuk rahib Buddha yang sebenarnya, tetapi bulat, botak rahib-seperti kepala boneka, dan “Teru Teru” bercanda merujuk pada efek cahaya matahari terpantul sebuah botak.
10 Aturan Memakai Sumpit Dengan Baik di jepang

Orang Jepang memiliki aturan-aturan ketat dalam menggunakan sumpit (Ohashi). Jika kamu makan dengan orang Jepang, mereka akan mengerti bahwa kamu tidak mengetahui etika dan aturan ala Jepang. Mereka mungkin akan memaafkan jika kamu melakukan beberapa kecerobohan besar. Tapi ga ada salahnya kan belajar budaya, aturan, dan etika memakai sumpit yang baik dan benar? Makan dengan sumpit adalah seni dan bahkan Jepang sendiri sering berjuang untuk bisa menggunakan sumpit dengan sempurna. Ada 10 aturan utama yang harus diikuti dalam menggunakan sumpit, ini dia,
1. Pegang sumpit dengan benar
Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Ini adalah bagian yang benar-benar membutuhkan waktu yang lama untuk menguasainya. Perhatikan bagaimana orang lain melakukannya dan berlatih dengan sabar. Jika kamu benar-benar ingin belajar Anda harus mendapatkan latihan sebanyak mungkin.
2. Jangan makan langsung dari piring lauk
Ketika kita makan dengan gaya Jepang, maka di tengah2 meja akan ada piring bersama yang berisi macam-macam lauk pauk. Jangan mengambil lauk kemudian langsung memasukkannya ke mulut, tapi setelah mengambil lauk di piring bersama, letakkan dulu di atas piringmu, baru boleh dimakan.
3. Gunakan alas sumpit
Banyak restoran Jepang akan memberikan alas sumpit. Kalau kamu sedang tidak menggunakan sumpit, taruh pada alas sumpit. Tapi kalau sumpit sekali pakai akan diberikan alas, jadi kita bisa membuat alas dari bungkus sumpit. Sumpit tidak boleh ditempatkan tegak di nasi karena hal ini menyerupai upacara dilakukan di pemakaman di Jepang.
4. Jangan menusuk makanan dengan sumpit
Jangan menggunakan sumpit untuk menusuk makanan yang akan kita makan. Hal ini dianggap serakah (sashi bashi).
5. Jangan menggali
Ambillah makanan dari bagian teratas. Jangan menggali di piring atau mangkok seperti sedang mencari sesuatu.
6. Jangan menjilat
Jangan menjilat ujung sumpit. (Neburi bashi)
7. Hati-hati memberikan makanan kepada orang lain
Jangan pernah berbagi makanan dengan lewat dari sumpit karena ini menyerupai kebiasaan di pemakaman Jepang ketika tulang dikremasi secara upacara dipindahkan ke guci. Ini mungkin adalah hal paling tabu yang dilakukan di meja makan Jepang.
8. Sumpit bukan mainan
Jangan menunjuk dengan sumpit Anda ketika berbicara atau memegang sumpit untuk waktu yang lama tanpa makan. Jangan pernah menggosok sumpit bersama-sama berulang-ulang karena merupakan tanda bahwa kamu berpikir bahwa sumpit itu murah.
9. Jangan meletakkan sumpit dalam keadaan tertumpuk menyilang (Seperti huruf X)
Posisi sumpit seperti ini juga mengingatkan orang Jepang pada upacara pemakaman.
10. Jangan gunakan sumpit untuk mengaduk sup
Walaupun sup miso yang tersaji kamu anggap kurang rata dan perlu diaduk, jangan gunakan sumpitmu untuk melakukannya.
Secara umum aturan yang paling penting adalah jangan lakukan hal-hal yang bisa mengingatkan orang-orang dengan prosesi pemakaman Jepang. Aturan menggunakan sumpit memang menantang bagi semua orang dan bahkan orang-orang Jepang sendiri jarang yang mahir menggunakan sumpit dengan baik dan benar.
Dakko Chan, Boneka Hitam Jepang yang Kontroversial

Ketika dipasarkan, boneka ini disebut Kinobori Winky (Winky Pemanjat Pohon) atau Kurombo Bura (Bura Si Hitam; bura berasal dari kata black). Kedua belah tangan boneka ini membentuk lingkaran seperti sedang memeluk (dakko), bagaikan koala sedang memeluk pohon. Sesuai dengan namanya, Dakko-chan bisa dipasang di lengan seperti sedang memeluk pemiliknya. Pada waktu itu, Dakko-chan dijual dengan harga \180. Pencipta karakter Dakko-chan bernama Kigen Ōki yang waktu itu masih kuliah di Universitas Seni Musashino. Sejak mulai dipasarkan pada bulan Juli 1960, boneka ini laris di kalangan wanita muda yang memasang Dakko-chan di lengan mereka sewaktu berjalan-jalan. Tren memasang boneka di lengan oleh wanita muda di Jepang diliput media massa yang menyebut mainan tersebut sebagai Dakko-chan. Setelah diberitakan di televisi, mainan ini laku keras sehingga toko mainan dan toko serba ada kehabisan stok dan pabrik tidak mampu memenuhi pesanan. Toserba terpaksa membagikan karcis antrian kepada calon pembeli yang kemudian dijual oleh para calo.
Hingga akhir tahun 1960, Dakko-chan terjual lebih dari 2.400.000 buah. Ketika sedang populer, produsen tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Dakko-chan mudah dibuat sehingga di pasaran diramaikan oleh barang palsu. Ciri khas Dakko-chan asli adalah mata dari stiker khusus yang bagaikan berkedip bila dilihat dari sudut pengamatan tertentu, sedangkan mata Dakko-chan palsu tidak bisa berkedip. Berkat membanjirnya barang palsu, Dakko-chan menjadi mainan yang mewakili dekade 1960-an. Takara kemudian mengganti desain Dakko-chan, dan menggunakan slogan baru untuk Dakko-chan di iklan televisi. Bukan hanya boneka plastik berisi udara, mainan ini juga dibuat dalam berbagai jenis produk. Kepopuleran Dakko-chan ternyata cepat surut, dan produksi dihentikan.
harajuku_dacco-chanPada tahun 1975, Dakko-chan dibuatkan edisi cetak ulang untuk memperingati 20 tahun Takara. Sekitar tahun 1988, penggambaran stereotipe kulit hitam dalam anime dan manga dianggap sebagai bentuk diskriminasi sehingga penerbit harus menarik kembali produk mereka. Desain dan warna Dakko-chan juga diganti sebelum akhirnya produksi kembali dihentikan. Gambar Dakko-chan yang dipakai sebagai logo perusahaan Takara juga tidak dipakai lagi sejak 1990. Setelah berganti warna, Dakko-chan diproduksi pada tahun 1997 oleh anak perusahaan Takara. Penjualan kembali dihentikan setelah rok rajutan dan bibir Dakko-chan dikritik sebagai bentuk diskriminasi orang kulit hitam.Pada 2001, Dakko-chan dihidupkan kembali, namanya ditulis dengan aksara hiragana. Rok rajutan dan bibir tebal Dakko-chan sudah dihilangkan. Dakko-chan versi baru digambarkan memiliki ekor, dan dibuat dalam beberapa warna, di antaranya hitam, merah jambu, dan biru.
Minggu, 06 Oktober 2013
14 Alasan Anda Harus Membungkuk Di Jepang
1. Salam
Adalah hal yang umum untuk memberi sekitar 10° anggukan kepala dan bahu untuk memberi salam pada seorang teman. Ini juga berlaku saat kita mengucapkan selamat tinggal.
2. Perkenalan
Baik perkenalan formal maupun santai diharapkan untuk membungkuk sekitar 30 ° menggunakan tubuh bagian atas Anda. Sangat penting untuk menjaga kepala dan bahu Anda lurus dan tangan ke samping.
Setelah bertukar kartu nama, membungkuklah sekitar 1 detik atau lebih. Jangan melakukan kontak mata karena akan dianggap tidak sopan, serta perhatikan jarak Anda sehingga tidak terjadi benturan kepala (hal itu sering terjadi).
Jika orang yang Anda temui sangat penting, membungkuklah sedalam 45°. Jangan membungkuk dan berjabat tangan pada saat yang bersamaan.
3. Membungkuk Atas Rasa Hormat
Membungkuk adalah ekspresi kerendahan hati. Hal itu selalu berarti menunjukkan rasa hormat kita kepada pihak lain.
4. Membungkuk Untuk Sportivitas
Membungkuk atas rasa hormat lainnya adalah membungkuk antar lawan sebelum pertandingan olahraga. Dalam hal ini, membungkuk yang sering dilakukan adalah membungkuk dangkal 20 °.
5. Membungkuk Untuk Urusan Agama
Adalah hal yang umum untuk membungkuk kepada para dewa di kuil Shinto. Di sini kita melakukan membungkuk dangkal menggunakan tubuh bagian atas.
6. Membungkuk Dalam Seni Bela Diri
Seni bela diri Jepang memiliki kaidah mereka sendiri dalam hal membungkuk. Membungkuk dimaksudkan untuk memberi hormat kepada sensei (guru) Anda. Merupakan hal yang sangat penting juga untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan Anda.
7. Membungkuk Pada Pelanggan
Di Jepang, pelanggan dianggap dewa (semacam itu). Hal umum bagi para staf untuk membungkuk kepada pelanggan, biasanya membungkuk dengan tubuh bagian atas sekitar 20 °.
8. Membungkuk Sebagai Rasa Terima Kasih
Jika seseorang mempersilakan Anda menyalip jalan mereka, suatu hal yang umum untuk membungkuk kecil menggunakan kepala sebagai tanda terima kasih. Bahkan umum untuk pengendara mobil saling membungkuk untuk sedikit kesopanan.
Pada pernikahan Jepang suatu hal yang umum untuk pengantin wanita untuk memberikan kata-kata sambutan yang menyentuh kepada orang tuanya – untuk mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan mereka selama ini. Di bawah adalah pengantin yang membungkuk hormat saat ia memberi hadiah bunga pada ibunya.
9. Membungkuk Pada Pertunjukan
Seperti halnya di Barat, hal yang umum dilakukan oleh para performer untuk membungkuk sebagai respon dari tepuk tangan yang diberikan untuknya, dan biasanya mereka membungkuk kecil. Di bawah ini tampak dua orang Geisha membungkuk dengan sangat dalam.
10. Permintaan Maaf Ringan
Untuk permintaan maaf ringan kita membungkuk dengan kepala 10 °. Hal ini dapat digunakan jika Anda bersenggolan dengan orang asing atau saat kita menyebabkan ketidaknyamanan kecil kepada seseorang. Sebagai contoh, jika seseorang menahan pintu lift untuk Anda. Katakanlah sumimasen (permisi atau maaf).
11. Permintaan Maaf Biasa
Jika bos Anda marah pada Anda, lakukanlah membungkuk 45 ° dengan tubuh bagian atas. Tahan selama 5 detik. Katakanlah sumimasen deshita (aku minta maaf atas apa yang telah kulakukan).
12. Permintaan Maaf Serius
Katakanlah Anda adalah seorang CEO di sebuah perusahaan dan perusahaan Anda merilis produk cacat. Pada konferensi pers Anda sebaiknya meminta maaf dengan membungkuk 45 ° dengan tubuh bagian atas dalam waktu yang agak lama, biasanya selama 15 hingga 20 detik. Katakanlah moushiwake gozaimasen deshita (aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan).
13. Permintaan Maaf Dengan Panik
Katakanlah Anda adalah seorang pelayan dan Anda menumpahkan kopi panas kepada seorang pelanggan. Anda akan membungkuk sedalam ° 45 secara berulang kali untuk menunjukkan betapa menyesalnya Anda. Ulangi kata-kata moushiwake gozaimasen (aku sangat menyesal) setiap kali Anda membungkuk.
Ini juga adalah cara orang-orang meminta maaf kepada yakuza dalam film-film.
14. Permintaan Maaf Sangat Serius
Katakanlah Anda telah melakukan kejahatan serius dan Anda meminta maaf kepada para korban. Anda akan membungkuk dengan posisi berlutut. Katakanlah makoto ni moushiwake gozaimasen deshita (aku meminta maaf dengan tulus atas apa yang aku lakukan).
Membungkuk Yang Tidak Masuk Akal
Sebagai tambahan dari fungsi-fungsi membungkuk di atas, orang Jepang juga memiliki beberapa bentuk membungkuk yang tidak masuk akal. Misalnya, mereka kadang-kadang membungkuk saat mengadakan hubungan telpon XD
Tradisi Adopsi Orang Dewasa ala Jepang
Suzuki misalnya, beberapa kali berada dibawah kendali anak adopsi. Pimpinan tertinggi Suzuki saat ini, Osamu Suzuki, adalah anak adopsi keempat dalam sejarah perusahaan itu. Bisnis keluaraga yang dijalankan oleh menantu lelaki biasanya malah jauh lebih bagus pertumbuhannya dibanding kalau dijalankan oleh anak laki-laki sendiri. Di Matsui Securities, sebuah perusahaan sekuritas tua di Jepang, pimpinannya saat ini Michio Matsui juga diadopsi meski dengan konsekuensi harus menanggalkan nama keluarganya sendiri. Pentingnya melanjutkan garis keturunan dan mempertahankan kelangsungan bisnis membuat Chieko Date membuka situs perjodohan dimana calon suami harus bersedia diadopsi oleh keluarga istrinya kelak. Ada yang berminat menjadi anak adopsi?
Lima Prinsip Pengambilan Keputusan di Jepang
Prinsip yang akan dibahas disini adalah prinsip 5 Gen yang berasal dari bahasa Jepang dan sangat populer serta telah menjadi dasar pemikiran oleh perusahaan-perusahaan yang mengikuti budaya Manufakturing Jepang dalam hal melakukan peningkatan yang berkesinambungan dan aktifitas pemecahan masalah.
Prinsip 5 Gen ini sebenarnya adalah pengembangan dari Prinsip 3 Gen yang sudah terkenal luas yakni GENBA, GENBATSU, dan GENJITSU. Bagi yang sudah mengenal Lean Manufacturing, maka Genba sudah tidak asing lagi. Karena dalam Lean manufacturing, genba adalah suatu kegiatan yang berkunjung ke lapangan (tempat kerja yang sebenarnya) untuk melakukan studi atau analisa langsung terhadap kesempatan peningkatan secara terus menerus (Kaizen) dalam hal menghindari Pemborosan (Waste/muda) yang terjadi dalam Produksi atau Industri.
Prinsip 5 Gen ini dipergunakan oleh Manajemen du produksi sebagai pedoman untuk menganalisa permasalahan yang terjadi dan mencari faktor penyebab permasalahan tersebut sehingga dapat diselesaikan dengan baik secara efisien dan efektif.
Kata “5 gen” berasal dari huruf pertama dari 5 kata dalam bahasa Jepang yaitu Genri. Gensoku, Genba, Genbutsu dan Genjitsu. Berikut ini adalah pembahasan singkatnya:
1. GENRI / THEORY
Genri jika diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia adalah Teori atau Prinsip. Genri disini diartikan dengan mengikuti atau berdasarkan Prinsip Teori umum dan pendekatan ilmiah dalam penyelesaian masalah atau melakukan peningkatan/perbaikan proses yang terus menerus.
2. GENSOKU / RULES
Arti dari gensoku dalam Bahasa Indonesia adalah peraturan atau prosedur dalam melakukan pemecahan masalah serta melakukan peningkatan proses (Process Improvement).
3. GENBA / REAL PLACE
Prinsip Genba menuntut setiap karyawan baik itu staff maupun manajemen untuk pergi ke tempat atau lokasi di mana suatu permasalahan tersebut terjadi supaya dapat memastikan sendiri atau mengetahui lebih jelas mengenai permasalahn tersebut. Genba jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah tempat kejadian sebenarnya atau lebih dikenal dengan istilah TKP (tempat kejadian perkara).
4. GENBUTSU / ACTUAL THINGS
Genbutsu adalah benda atau kondisi yang sebenarnya. Disini Manajemen dituntut untuk melihat suatu kejadian atau benda dengan matanya sendiri atau rasakan sendiri serta sentuh dengan tangannya sendiri.
5. GENJITSU / REALITY
Genjitsu adalah kenyataan yang harus dirasakan seperti gejala-gejala (symptom) permasalahan dan pengaruhnya terhadap proses produksi meupun proses kerja dalam suatu industri.
Dengan adanya lima pedoman gen ini, diharapkan manajemen di produksi tidak hanya mengambil suatu keputusan melalui informasi dam laporan dari bawahannya. Tetapi dengan melihat dan merasakannya langsung gejala (Symptom) dari suatu permasalahan. Dengan demikian, keputusan yang akan diambil lebih akurat, efektif serta efisien.
Rabu, 02 Oktober 2013
Pantai Akajima, Jernih dan indah
Pulau kecil dari Akajima cukup populer di kalangan trippers Jepang selama musim panas berlangsung. Untuk itu, Akajima mempertahankan pesonanya. Pantai yang bersih ini, biasanya hanya dihiasi oleh beberapa peselancar Jepang dan warga disekitar pantai yang ramah.
Perjalanan ke Akajima dari Tomari Pelabuhan Naha di Okinawa dapat dilalui dengan kapal ekspres selama satu jam.

Pandangan Wanita Jepang Terhadap Pria Indonesia

Secara keseluruhan di Jepang, penduduk pria lebih banyak daripada wanita. Dalam keluarga, perempuan bertanggung jawab semuanya, mulai dari mengurus suami dan rumah tangga. Tugas suami hanyalah bekerja mencari nafkah. Manga dan film-film Jepang, baik seting lama maupun baru pun secara tidak langsung menunjukan hal tersebut. Jika satu keluarga akan berpergian, maka sang istrilah yang menyiapkan semuanya. Bahkan, sampai menyiapkan dan memasukan semua barang ke dalam mobil pun di lakukan oleh istri. Suami tinggal masuk mobil dan menyetir. Yang sering terlihat di mall atau di taman pun sama. Suami tidak pernah direpotkan dengan urusan anak. Anak belepotan makanan, baju kotor, ganti topi, membersihkan muka, dan semua tugas kecil dilakukan semuanya oleh istri.
Tampaknya, bagaimana pria lebih superior dari wanita sudah terlihat sejak remaja. Lebih dari sekali terlihat, pasangan remaja, jika berpergian, maka yang membawa tas atau beban lebih banyak adalah yang wanitanya. Bahkan satu dua kali terlihat jika hanya ada satu sepeda, maka yang pria yang naik sepeda, sementara yang wanita jalan!
Itulah budaya Jepang dan tampaknya tidak ada masalah dengannya. Ini terbukti, dengan budaya yang sudah ratusan tahun itu, Jepang tetap bertahan dan maju sampai seperti sekarang.
Namun tampaknya pandangan beberapa wanita Jepang tentang budaya itu sedikit berubah saat mengenal lebih dekat kehidupan warga Indonesia di sana. Di wilayah Jepang, tepatnya di Sapporo, banyak pekerja dan mahasiswa Indonesia yang tinggal disana. Wanita-wanita Jepang ini mulai heran melihat kebiaasaan sederhana penduduk pria Indonesia yaitu melihat suami mencuci piring, atau suami membawa belanjaan di mall, atau suami yang menutup dan mengunci pintu saat sekeluarga berpergian, atau suami membantu mengganti baju anak di taman atau menyuapkan makanan kepada anaknya. Hal yang luar biasa juga untuk mereka melihat suami memasak dan menyiapkan makanan untuk istrinya, atau bermain dengan anak sementara istrinya duduk dan membaca.
Mereka pun merasa heran jika melihat mahasiswa pria selalu mengantarkan dan tidak membiarkan mahasiswi pulang sendirian malam-malam. Jepang adalah salah satu negara teraman di dunia. Tidak ada kekhawatiran untuk pulang malam sendirian. Mereka lebih heran lagi jika tahu alasan mengantar tersebut bukan karena takut ada apa-apa di jalan, tapi karena menghargai mereka. Mereka juga akan terheran-heran jika ada yang rela memberikan sepedanya untuk dinaiki sementara yang punyanya berjalan.
Mereka melihat bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya yang lebih baik dibanding dengan budaya mereka, khususnya dalam hubungan pria dan wanita. Dua dari tiga teman wanita Jepang jika ditanya apakah suka dengan pria Indonesia, maka mereka menjawab suka dan yang ketiganya bahkan ingin menikah dengan pria Indonesia. Mereka memandang, pria Indonesia sangat menjunjung wanita, rela berkorban dan bertangggung jawab. Bahkan kebanyakan wanita Jepang, suka dengan pria Indonesia karena kulitnya yang sawo matang.
Senin, 30 September 2013
20 Alasan Wanita Jepang Ingin Berkencan Dengan Pria Otaku

Kualitas apa yang dimiliki oleh pria otaku yang menarik para wanita pada mereka? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Goo membuat poling yang diikuti oleh 1.072 wanita Jepang untuk mengetahui 20 alasan teratas mereka berkencan dengan pria otaku. Poling ini dilakukan pada bulan Januari 2013 dengan hasil yang dapat kita lihat di bawah ini.
20 alasan teratas untuk berkencan dengan pria otaku:
1. Selalu setia (100)
2. Mengerti mengenai dunia IT (93,4)
3. Sederhana dan tidak terlihat mencolok (83,6)
4. Sangat kecil kecenderungannya untuk menghamburkan uang untuk minum-minum, membeli barang-barang bermerek yang mahal dan berjudi (83,1)
5. Berpotensi untuk menjadi bersinar jika dipoles (73,7)
6. Rasa malu mereka terlihat imut (71,4)
7. Tidak memaksakan diri untuk mendapatkan perhatian wanita (67,6)
8. Memiliki pengetahuan yang luas mengenai bermacam hal (63,4)
9. Pengertian akan hobi otaku (45,1)
9. Memiliki cara mereka sendiri untuk melakukan berbagai hal (45,1)
11. Tidak memberi perhatian yang terlalu berlebihan karena mereka sibuk dengan hobi mereka (39,9)
11. Terlihat sangat bersemangat jika berhubungan dengan hobi mereka (39,9)
13. Logis dan berbicara dengan sudut pandang tertentu (37,1)
13. Mampu menunjukkan dunia mereka kepada orang lain yang tidak menyadarinya (37,1)
15. Lingkaran sosial mereka tidak terlalu besar (35,7)
16. Anda akan mudah untuk memimpin hubungan itu karena kurangnya pengalaman mereka (32,9)
17. Tidak terlalu banyak membawa trauma akan hubungan masa lalu karena kurangnya pengalaman (30,5)
18. Penuh dengan bahan dan topik pembicaraan (30,0)
19. Dapat mendandani mereka seperti apapun karena mereka tidak memiliki preferensi (24,4)
20. Tidak ada keluhan saat menghabiskan uang untuk hobi (23,9)
Apakah Anda setuju dengan hasil poling di atas? ^^
Survey Membuktikan: Orang Jepang Tidur Lebih Sebentar Daripada Negara Lain
Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara-negara lain. Rata-rata mereka tidur enam jam 31 menit dan enam jam 22 menit. Survei juga menemukan, dua pertiga orang Jepang (66 persen) tidur kurang dari tujuh jam pada hari kerja. Untuk mencukupi kebutuhan tidur mereka yang kurang, 51 persen orang Amerika dan Jepang mengaku tidur siang satu hari dalam dua minggu terakhir. Orang dari negara lain yang disurvei mengatakan, mereka mengganti tidur mereka di akhir pekan dengan rata-rata 45 menit waktu tidur ekstra.
Menonton televisi sebelum tidur merupakan aktivitas sebelum tidur yang paling umum dilakukan. Antara 66 persen dan 80 persen orang di seluruh negara yang disurvei mengatakan, mereka menonton TV sebelum tidur. Naomi Goel, peneliti sekaligus profesor psikiatri di University of Pennsylvania mengatakan, sebagai survei internasional pertama yang membahas soal kebiasaan tidur, hasil ini memiliki kontribusi penting pada dunia ilmu pengetahuan. ”Meski kita tahu, semua orang butuh tidur, namun perbedaan budaya dari beberapa negara tentang kebiasaan tidur belum dieksplorasi dengan adekuat,” ujarnya.
Pelajaran Kecil dari Konosuke Matsushita

Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita (Panasonic) group, adalah sosok yang kharismatis. Salah satu ucapan dia yang terknal adalah “Perusahaan yang memproduksi barang adalah perusahaan yang mengasuh manusia” (mono wo tsukuru kaisha wa hito wo sodateru kaisha). Artinya dia menempatkan manusia sebagai sentral dalam pengembangan perusahaan/bisnisnya. Itulah yang dia tunjukkan dalam berbagai episode kehidupannya.
Ada cerita yang sudah cukup sering ditulis di sana sini, tentang bagaimana Matsushita memilih untuk tidak mengurangi karyawan saat krisis ekonomi yang sangat dahsyat tahun 1929. Ia mengurangi produksi dengan mengurangi jam kerja karyawan, dan tetap membayar upah mereka. Menjamin karyawan dan keluarganya bisa tetap bertahan hidup di tengah krisis.
Di kemudian hari para karyawan yang dia selamatkan ini menyelamatkan dirinya. Saat Jenderal Mc Arthur menguasai Jepang, dia menahan banyak pengusaha yang terlibat dalam produksi senjata selama perang. Sebagian dari pengusaha ini melakukan hal itu karena terpaksa, di bawah tekanan rezim militer. Matsushita termasuk di antaranya. Tapi para karyawan yang diselamatkan tadi membuat petisi, meminta Matsushita dibebaskan. Akhirnya petisi ini dikabulkan.
Ada lagi cerita menarik yang saya dengar melalui sebuah stasiun TV Jepang. Suatu hari Matsushita hendak menghadiri sebuah pertemuan bisnis penting. Iya hendak menggunakan mobil, tapi sopirnya belum datang. Ia menunggu cukup lama sampai akhirnya sopir itu datang. Akibatnya ia terlambat sampai ke tempat pertemuan.
Matsushita marah besar dengan kejadian ini. Ia mengumumkan bahwa kejadian ini memalukan dan tak boleh terulang. Agar tak terulang, harus ada yang dihukum potong gaji (kalau tak salah potong sebulan gaji). Siapa yang dihukum? Ketika keputusan diumumkan, banyak orang terkejut. Ternyata Matsushita sendirilah yang dipotong gajinya. “Yang terlambat hadir di pertemuan itu saya, bukan sopir saya. Saya punya kewajiban mencari jalan agar tidak terlambat ketika sopir saya berhalangan.” begitu alasan yang dia berikan.
Di saat lain diceritakan Matsushita sedang mengamati pengunjung yang antri hendak masuk ke sebuah museum Panasonic. Terjadi antrian panjang di bawah cuaca yang cukup panas. Karena kasihan melihat pengunjung yang kepanasan itu, Matsushita mengambil beberapa lembar pamflet Panasonic, lalu membuat topi dengan kertas pamflet itu, lalu membagikannya ke pengunjung. Hal ini kemudian ditiru oleh para stafnya. Ternyata ada efek yang tak lazim dari kegiatan ini. Topi kertas berlogo Panasonic itu tetap dipakai pengunjung dalam perjalanan pulang, sehingga menjadi semacam media iklan. Kemudian pihak museum secara resmi menyediakan topi kertas berlogo Panasonic.
Pelajaran dari Matsuhita: perlakukan manusia dengan baik dalam berbisnis.
Seks dalam Masyarakat Jepang

Salah satu acara TV yang dulu pernah ada di Jepang adalah Kissiya. Ini singkatan dari kisu dake jya, iya. Artinya kalau diterjemahkan dalam bahasa gaul “kalau cuma cium sih, ogah”. Isi acara ini, seperti dari namanya, adalah liku-liku hubungan seksual. Acara diasuh oleh komedian kawakan, Shinnosuke Shimada.
Acara dikemas dalam format talk show, dipadu sedikit dengan reality. Biasanya ada seseorang, atau pasangan yang mengadukan masalah seksual yang dia hadapi, lalu program itu membantu menyelesaikan masalahnya. Tentu saja format acara secara keseluruhan mengalir secara kocak, karena dipandu oleh seorang pelawak.
Salah satu cerita di acara itu yang masih saya ingat adalah tentang seorang gadis berusia sekitar 23 tahun. Dia sudah punya pacar. Dan dia masih perawan. Dia merasa sudah tidak patut untuk tetap perawan di usia tersebut. Dia ingin melakukan hubungan seks, tapi bingung bagaimana memulainya. Bingung, sekaligus takut. Juga malu untuk mengkomunikasikannya dengan sang pacar.
Melalui beberapa perbincangan lucu akhirnya si gadis berhasil diyakinkan bahwa hubungan seks, termasuk yang pertama kali harus berjalan secara natural tanpa tekanan. Tentu saja disertai nasehat konyol kepada si pacar, tentang bagaimana seks yang pertama kali harus dilakukan.
Acara ini bagi saya informatif. Dalam arti dari acara tersebut saya mendapat gambaran tentang presepsi orang Jepang terhadap seks, serta bagaimana peri laku mereka. Secara umum saya melihat orang Jepang sekarang seperti OKB dalam hal seks. Iklim seks bebas sudah ada. Artinya sudah lazim orang melakukan hubungan seks tanpa ikatan pernikahan. Tapi pada saat yang sama, orang-orang Jepang itu tipikal orang Asia yang masih pemalu.
Kebebasan dalam hal hubungan seksual di masyarakat Jepang saya rasakan saat saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan seorang teman. Satu-satunya resepsi pernikahan yag saya hadiri selama saya di Jepang. Di acara itu disajikan presentasi tentang sejarah hubungan kedua mempelai hingga mereka ke pelaminan. Menjelang akhir presentasi ditunjukkan foto hasil tes urin yang menunjukkan mempelai perempuan positif hamil, yang kemudian membuat pasangan ini memutuskan untuk menikah.
Saya masih menemukan istilah dekichatta kekkon, pernikahan karena si perempuan terlanjur hamil. Adanya istilah ini sebenarnya menunjukkan sisa-sisa iklim konservatif, di mana kehamilan atau hubungan seksual seharusnya dilakukan sebelum pernikahan. Tapi nampaknya istilah ini akan berganti menjadi dekita kekkon. Dekichatta adalah bentuk non-formal dari dekite simatta. Ungkapan dengan tte-shimatta biasanya untuk menunjukkan sesuatu tidak diinginkan, terlanjur, dan juga tidak terlalu baik. Dekita, merujuk pada kehamilan bermakna lebih datar, hanya kehamilan biasa, bukan sesuatu yang patut disesali. Bergesernya ungkapan dari dekichatta kekkon menjadi dekita kekkon menunjukkan pergeseran presepsi masyarakat terhadap hubungan seksual pra nikah.
Anak-anak muda Jepang memang sudah menganggap hubungan seks di luar nikah sebagai hal yang lumrah. Para orang tua nampaknya masih setengah-setengah. Dalam arti, sebagian masih ingin agar tradisi lama dijaga, tapi tak kuasa menahan gempuran arus kebebasan.
Yang mengkhatawirkan adalah euforia kebebasan yang berlebih. Yaitu kebebasan tanpa batas, seperti hubungan seks di usia dini. Konon, anak-anak di Jepang sudah mulai berhubungan seks sejak usia SMP. Juga, karena seks belum jadi topik pembicaraan terbuka, banyak anak muda melakukan hubungan seks tanpa pengetahuan, sehingga gampang terjerumus pada seks yang tidak sehat.
Ini masih ditambah dengan masalah pelacuran tak resmi, di mana anak-anak perempuan muda berhubungan dengan laki-laki yang lebih tua untuk mendapatkan imbalan uang, yang disebut dengan istilah enjyo kousai.
Saya tak tahu persis, sejak kapan masyarakat Jepang menjadi bebas dalam hal seks. Dugaan saya erat ini terjadi bersamaan dengan berkembangnya ekonomi Jepang sejak akhir dekade 60-an, hingga ke masa booming tahun 80-an.
Tak banyak saya lihat institusi atau regulasi yang mengontrol kebebasan seksual di Jepang. Penerbitan majalah/buku yang memuat gambar telanjang demikian bebas. Demikian pula video porno. dulu sekitar tahun 1997 kita sudah bisa menemukan buku/majalah yang memuat gambar telanjang dijual bebas di convenient store. Untuk membeli memang dibatasi bagi usia 20 tahun ke atas. Tapi karena tidak disegel, siapa saja bisa melihat isi majalah itu di toko tersebut. Belakangan diberlakukan aturan wajib segel.
Adapun pelacuran, secara resmi hukum Jepang melarangnya. Dalam arti, layanan seksual yang membolehkan intercourse. Tapi tidak ada larangan bagi yang diluar itu, seperti layanan oral seks. Layanan prostitusi di Jepang biasanya disertai dengan term and condition bahwa layanan intercourse tidak diberikan.
Agama Orang Jepang

Di sekolah kita diajarkan bahwa agama (mayoritas) orang Jepang adalah Shinto dan Budha. Informasi ini tidak salah. Hanya saja bisa menimbulkan salah paham kalau kita membayangkan agama itu dihayati dan dijalankan seperti di Indonesia.
Kalau ditanya soal agama orang Jepang modern cenderung mengaku tidak beragama (musyukyo). Mereka juga sering mengungkapkannya dengan cara lain. “Nihonjin wa syukyo ni mukanshin.” (Orang Jepang tidak punya minat pada agama.). Saya melihat orang Jepang tidak beragama dalam arti tidak terikat pada suatu agama tertentu (organized religion).
Di Jepang kita bisa menemukan banyak sekali tempat ibadah, yaitu kuil Budha (otera) dan kuil Shinto (jinja). Tapi kita tidak akan menemukan orang-orang yang secara berkala melakukan ritual ibadah di situ. Paling-paling mereka melakukan ritual secara insidental, misalnya saat tahun baru.
Lebih penting lagi, mereka tidak terikat untuk melulu melakukan ibadah menurut tata cara salah satu agama. Saat kelahiran anak orang Jepang membawanya ke jinja untuk upacara Omiya-mairi (お宮参り). Demikian pula saat anak berumur 3, 5, dan 7 tahun, ada ritual Shichigosan (七五三)yang dilakukan di jinja. (Sichigosan artinya tujuh lima tiga.) Tapi saat meninggal, upacara penguburan dilakukan dengan tata cara Budha di Otera.
Lebih menarik lagi, sekarang ada tren untuk menikah dengan tata cara Kristen. Di hotel-hotel tertentu tersedia kapel. Bukan untuk beribadah, tapi untuk upacara pernikahan. Yang menikah bukan orang yang beragama Kristen. Yang menikahkan juga bukan pendeta. Biasanya cuma orang bule yang bekerja paruh waktu sebagai tukang menikahkan. Saat Natal orang Jepang membeli dan makan Christmas cake, tapi mereka tidak ke gereja.
Tentu saja ada sebagian kecil orang Jepang yang menekuni agama secara serius. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa orang Jepang itu tidak beragama. Perlu ditambahkan bahwa hari-hari libur nasional Jepang tidak ada yang merupakan hari libur keagamaan. Bahkan hari Natal sekalipun di Jepang bukan hari libur.
Bagaimana dengan Islam? Jumlah orang Islam cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Ini diiringi dengan meningkatnya jumlah mesjid. Beberapa kota besar seperti Tokyo, Kobe, Nagoya, dan Fukuoka sudah memiliki mesjid.
Orang Islam di Jepang umumnya adalah imigran dari negara-negara berpenduduk muslim, seperti Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan lain-lain. Sebagian datang sebagai mahasiswa, kemudian bekerja. Juga ada yang datang sebagai pekerja maupun pengusaha. Beberapa dari mereka menikah dengan orang Jepang, dan pasangannya ini masuk Islam. Juga ada beberapa orang Jepang yang masuk Islam atas kemauan sendiri. Tapi jumlahnya tidak banyak.
