Dynamic Blinkie Text Generator at TextSpace.net

Rabu, 16 Oktober 2013

Betapa Kurang Romantisnya Di Jepang

Di Tokyo, tak seorang pun lawan jenis akan memandang kamu, tidak peduli betapa menariknya penampilan kamu. Pria di Tokyo tidak akan bergeming meski ada wanita cantik berdiri di hadapan mereka. Wanita juga begitu, mereka tidak bereaksi saat melihat pria tampan di hadapannya. Namun masih ada satu atau dua saja, pada umumnya jarang terjadi.

Di jalanan, kereta api, dan bus kota, semua orang duduk dengan tenang, tidak macet, semua asyik dengan gadget, ponsel, buku, dan kesibukan lainnya. Di restoran-restoran di kawasan Marunoichi, Anda bisa melihat banyak laki-laki berkerumun bersama laki-laki saat istirahat makan siang, dan perempuan juga bertemu dengan perempuan.

Hubungan antara pria dan wanita di Jepang memang unik dan penuh cerita. Tradisi masyarakat samurai atau bukeshakailah yang membentuk cara pandang laki-laki terhadap perempuan dan sebaliknya. Ada pepatah lama di Jepang yang mengatakan, “Daidokoro wa onna no seiiki,” atau “Dapur adalah tempat bagi wanita.”

Status sosial perempuan di Jepang masih paling rendah dibandingkan negara maju lainnya. Meskipun pemerintah Jepang mengeluarkan undang-undang yang menjamin kesetaraan antara laki-laki dan perempuan setelah Perang Dunia II, perbedaan status sosial gender terus terlihat oleh masyarakat. Dalam dunia kerja, masih sulit bagi perempuan untuk setara dengan laki-laki. Selain tradisi samurai, menarik juga untuk mengamati cinta dan struktur Jepang.

Dalam bahasa Jepang, sulit menemukan kata-kata romantis atau kosa kata bahasa Jepang yang menggoda. Misalnya ketika wanita memanggil dan menggunakan kata-kata cheesy seperti “Darling, love, sweetness, my lovers, my sweetheart, my soul mate” dan lain-lain ketika dalam bahasa inggris diucapkan seperti “Darling, honey, baby, sweet heart” dan seterusnya. lain. Tidak ada panggilan seperti itu di Jepang! Wanita Jepang memang aneh kalau pria menggunakan kata-kata manis atau genit. Pria Jepang juga jarang menggunakan kata “Aku cinta kamu”. Ungkapan “Aku cinta kamu” diungkapkan kepada pasangan yang ingin dinikahinya. Jika Anda baru berkencan, Anda tidak akan berpikir untuk menikah hanya dengan menggunakan kalimat "Aku menyukaimu".

Orang Jepang pandai menunjukkan nilai-nilai seperti ketekunan, kerja keras atau semangat pantang menyerah dalam segala aspek kehidupan. Tapi tidak dengan romantisme. Bersikap hangat dan romantis, menunjukkan kelembutan, rayuan, dan tatapan penuh kasih sayang terhadap sang kekasih, sepertinya bukan menjadi ciri umum masyarakat Jepang.

[TIPS BUAT COWO JOMBLOH] Cara Membuat Wanita Jepang Kagum

   Berikut beberapa tips atau cara mendekati gadis Jepang:

1. Motto Anda adalah "selalu mengutamakan wanita"


Kira-kira seperti ini: Selalu bukakan pintu untuknya, ketika kamu pertama kali berjalan dengan wanita tersebut, biarkan perempuan yang terlebih dahulu masuk ke suatu tempat ruangan atau lift. Maka Anda akan terlihat sangat sopan.

Berikut beberapa tips atau cara mendekati gadis Jepang:

1. Motto Anda adalah "selalu mengutamakan wanita"

Kira-kira seperti ini: Selalu bukakan pintu untuknya, ketika wanita pertama kali mendekati wanita tersebut. Maka Anda akan terlihat sangat sopan.

2. Dilindungi

Bukan seperti superhero di film action, pelindung di sini berarti memulai dari hal kecil namun bermakna seperti melindunginya saat hujan agar tidak basah, menawarkan tempat duduk sambil minum kopi bersama, dan sebagainya.

3. Jadilah pria yang seksi

Seksi bukan hanya untuk wanita. Pria berhak diberi tahu bahwa mereka juga seksi. Menurut sebuah survei, pria dikatakan paling seksi ketika dia merokok, melepas dasinya setengah dan membuka beberapa kancing di kemejanya.

4. Berperan ganda sebagai kakak

Berdasarkan hasil survei, remaja putri sangat suka diperlakukan dengan lembut, manis, dan bertingkah laku layaknya seorang kakak perempuan.

5. Selalu "ada" untuknya

Wanita menyukai pria yang selalu ada saat mereka mengalami kesulitan atau keadaan darurat. Anda bisa mulai dengan membelikannya sesuatu yang tidak bisa dia bawa, tasnya yang berat, dll.

6. Perhatikan sekelilingmu

Wanita Jepang menghargai pria yang memperhatikan lingkungan sekitar, misalnya saat kamu sedang menaiki lift bersama beberapa orang kamu mencoba menekan tombol lift.

7. Terlihat tampan

Wanita Jepang menyukai pria yang bersih dan rapi. Buat dia terkesan dengan menunjukkan sedikit kulit anda ketika berpakaian lengan panjang.

TIPS BUAT CEWE JOMBLO. Cara Memikat Hati Cowo Jepang

   Rata-rata daya tarik hati pria Jepang tak jauh berbeda dengan pria di negara lain. Meski kebanyakan pria Jepang bersikap dingin... wanitanya lah yang mesti sedikit agresif. Tapi jangan terlalu agresif. Berikut beberapa tips yang memenangkan hati pria Jepang.

1. Perkenalkan diri Anda dengan baik
Artinya, saat pertama kali bertemu dengannya, usahakan bersikap senormal mungkin, tidak perlu bersikap sangat mengganggu atau berlebihan.

2. Jadilah diri sendiri
Terkadang wanita melakukan hal-hal konyol yang membuatnya terlihat bodoh saat sedang jatuh cinta. Hentikan, kendalikan diri kamu. Jadilah diri sendiri, percaya diri dan tunjukkan kepribadian baikmu.

3. Sisi ramah
Kebanyakan pria Jepang mencari wanita yang tidak hanya menyukai mereka secara seksual, tapi juga wanita yang bisa dijadikan teman. Jadi tunjukkan bahwa kamu bisa menjadi sahabatnya. Pria Jepang kebanyakan akan memilih wanita yang bisa mereka percayai untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya.

4. Percaya diri
Pria Jepang menyukai wanita yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Hal ini tidak berarti bahwa perempuan itu egois atau sombong, tetapi perempuan dapat menunjukkan bahwa dirinya berharga dan mengetahui kelebihan dirinya dibandingkan orang lain.

5. Merasa dibutuhkan
Tidak ada yang membuat pria di negara mana pun lebih bahagia selain merasa dibutuhkan dan diinginkan. Mungkin ada kebutuhan untuk mandiri, namun terkadang wanita juga perlu membiarkan pria merawatnya dan menunjukkan bahwa pria memiliki kemampuan untuk melakukannya.

6. Dengarkan
Tanyakan kepada mereka bagaimana kabar mereka dan kemudian dengarkan apa yang mereka katakan. Jangan ikut campur atau menghakimi. Pria Jepang akan senang jika ada seseorang yang mau mendengarkannya.

7. Penampilan
Tidak ada yang menyukai gadis yang berantakan. Berpenampilan jorok, tidak menjaga diri, dan berpakaian sembarangan akan membuat pria Jepang tampil buruk. Jadi pastikan untuk memikirkan penampilan Anda.

Manfaat Ocha, Teh Hijau ala Jepang

Meski upacara minum teh sudah tidak populer lagi di Jepang, teh hijau masih menjadi bagian dari gaya hidup Jepang modern dan menjadi minuman yang paling tepat sambil menikmati kue khas jepang.

Teh hijau merupakan jenis teh yang dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat Jepang. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika teh hijau hanya disebut "teh" atau "ocha" dalam bahasa Jepang. Produksi teh dan tradisi konsumsi teh dimulai pada zaman Heian, setelah teh dibawa ke Jepang oleh para duta besar kaisar yang dikirim ke Tiongkok pada masa Dinasti Tang. Literatur klasik Nihon Koki yang ditulis tentang Kaisar Saga sangat terkesan dengan teh yang disajikan oleh seorang pendeta bernama Eichu saat ia mengunjungi Provinsi Omi pada tahun 815.

Saat itu, teh masih berupa produk fermentasi setengah matang, mirip dengan teh oolong yang kita kenal sekarang. Teh ini dibuat dengan cara direbus dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil Buddha. Karena teh hanya dinikmati oleh kalangan terbatas, kebiasaan meminumnya tidak pernah menjadi populer. Pada masa Kamakura, pendeta Myoani Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di Jepang dan sekaligus memperkenalkan matcha (bubuk teh hijau) yang mereka bawa dari Tiongkok sebagai obat. Sejak saat itu, berbagai aliran upacara minum teh berkembang dan jumlahnya kini mencapai lebih dari 30 aliran.

Meskipun upacara minum teh kini tidak lagi dilakukan setiap hari, budaya minum ocha, baik sebagai minuman maupun untuk keperluan lain, masih dipraktikkan di masyarakat Jepang. Setidaknya ada beberapa jenis ocha yang populer di Jepang, seperti Matcha, Konacha, Sencha, dan Gyokuro,  Sencha merupakan jenis ocha yang paling umum dikonsumsi oleh orang Jepang, sedangkan Gyokuro merupakan jenis ocha yang paling mahal karena rasanya yang lebih nikmat.

Selain karena keterkaitan dengan budaya masa lalu, ada pula faktor sejarah dan manfaat yang membuat orang Jepang masih setia mengonsumsi ocha hingga kini. Ocha sudah lama dikenal mengandung bahan-bahan yang memberikan banyak manfaat bagi kesehatan manusia. Seperti yang dilaporkan Herald Tribune pada awal Agustus lalu, para model kelas dunia mulai kecanduan dengan minuman yang memanjakan mata. Pasalnya, Ocha dapat memberikan efek relaksasi di tengah padatnya pekerjaan sebagai model.

Selain itu, Ocha juga dapat dipadukan dengan madu atau bunga sakura untuk meningkatkan efek relaksasi. Kini, Ocha tidak hanya dikonsumsi sebagai olahan, konsumsi minuman, atau sebagai pelengkap makanan. Banyak kuliner populer lainnya yang diolah dengan Ocha. Matcha, misalnya, pada musim ini kerap digunakan untuk membuat es krim, kue, dan semifreddo yang dipadukan dengan buah atau makanan. Matcha merupakan bubuk daun Ocha yang dulunya kerap digunakan dalam upacara minum teh.

Inemuri, Bukti Kerja Keras Di Jepang

                               Foto: Inemuri, Bukti Kerja Keras Di Jepang 

Bangsa Jepang memiliki penilaian tersendiri untuk mengartikan tidur di tengah pekerjaan atau meeting, baik itu urusan bisnis atau pemerintahan. Mereka memiliki sebuah istilah yang disebut Inemuri. Secara harafiah, Inemuri berarti “tidur sesaat”. Ketika seseorang “ber-inemuri”, mereka memandangnya sebagai akibat dari kerja keras dan pengorbanan setelah bekerja hingga larut malam. Karena itu, tidak sedikit orang yang berpura-pura tertidur agar dinilai berkomitmen dengan pekerjaan mereka.

Konsep penilaian ini mungkin sedikit aneh. Namun, Dr Neil Stanley, seorang ahli di Norfolk and Norwich University Hospital, berpendapat cara bangsa Jepang menilai tidur-saat-bekerja lebih baik dari bangsa lain.

“Bangsa Jepang benar tentang penilaian bahwa seseorang bekerja lebih baik setelah tidur sesaat karena ada taraf kedewasaan di dalamnya” ujar Neil kepada BBC. Ia setuju, bekerja keras hingga larut malam dan tertidur saat bekerja lebih “dewasa” dibanding cara umum; terlambat menyelesaikan dimaklumi sebagai tanda beratnya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Secara sederhana, bisa dikatakan bangsa Jepang lebih menoleransi tertidur beberapa menit saat bekerja dibanding keterlambatan menyelesaikan pekerjaan, betapa pun beratnya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Namun, perlu diketahui bahwa tidur sesaat yang dimaksud dalam inemuri bukan tidur bebas dan sembarang. Inemuri juga memiliki peraturan yang ketat, termasuk siapa saja yang “pantas” melakukannya atau bagaimana cara melakukannya. Siapa yang dianggap pantas? mereka yang memegang jabatan tinggi dalam perusahaan atau pemerintahan. Caranya? dengan menjaga posisi tubuh tetap tegak sehingga tampak tetap terlibat dalam rapat, atau pekerjaan. Peraturan ini tidak tertulis di manapun, tapi semua mengetahuinya karena mereka belajar berdasarkan adat istiadat.

Sumber : continentalmachinerymovers.wordpress.com

~Adi~
Bangsa Jepang memiliki penilaian tersendiri untuk mengartikan tidur di tengah pekerjaan atau meeting, baik itu urusan bisnis atau pemerintahan. Mereka memiliki sebuah istilah yang disebut Inemuri. Secara harafiah, Inemuri berarti “tidur sesaat”. Ketika seseorang “ber-inemuri”, mereka memandangnya sebagai akibat dari kerja keras dan pengorbanan setelah bekerja hingga larut malam. Karena itu, tidak sedikit orang yang berpura-pura tertidur agar dinilai berkomitmen dengan pekerjaan mereka.

Konsep penilaian ini mungkin sedikit aneh. Namun, Dr Neil Stanley, seorang ahli di Norfolk and Norwich University Hospital, berpendapat cara bangsa Jepang menilai tidur-saat-bekerja lebih baik dari bangsa lain.

“Bangsa Jepang benar tentang penilaian bahwa seseorang bekerja lebih baik setelah tidur sesaat karena ada taraf kedewasaan di dalamnya” ujar Neil kepada BBC. Ia setuju, bekerja keras hingga larut malam dan tertidur saat bekerja lebih “dewasa” dibanding cara umum; terlambat menyelesaikan dimaklumi sebagai tanda beratnya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Secara sederhana, bisa dikatakan bangsa Jepang lebih menoleransi tertidur beberapa menit saat bekerja dibanding keterlambatan menyelesaikan pekerjaan, betapa pun beratnya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Namun, perlu diketahui bahwa tidur sesaat yang dimaksud dalam inemuri bukan tidur bebas dan sembarang. Inemuri juga memiliki peraturan yang ketat, termasuk siapa saja yang “pantas” melakukannya atau bagaimana cara melakukannya. Siapa yang dianggap pantas? mereka yang memegang jabatan tinggi dalam perusahaan atau pemerintahan. Caranya? dengan menjaga posisi tubuh tetap tegak sehingga tampak tetap terlibat dalam rapat, atau pekerjaan. Peraturan ini tidak tertulis di manapun, tapi semua mengetahuinya karena mereka belajar berdasarkan adat istiadat.

Sumber : continentalmachinerymovers.wordpress.com

Mengenal Sejarah Bento, Bekal Nasi Asal Jepang

Sejak tahun 1568 hingga 1600, masyarakat Jepang mulai mengenal gaya hidup makan di luar ruangan. Makanan yang dibawa diletakkan di dalam kotak kayu yang dicat. Kebiasaan ini kemudian dikenal dengan kebiasaan makan dalam upacara minum teh atau hanami. kemudian, pada zaman Edo, antara tahun 1600 hingga 1800, budaya bento semakin populer di kalangan masyarakat Jepang. Kala itu, saat bepergian atau traveling, masyarakat Jepang membawa bekal makan genggam atau kantong bento di punggung. Bento yang dibawa disebut koshibokento. Koshibokento yang umum adalah onigiri. Kala itu, ada pula jenis bento yang disebut dengan Makunouchi bento. Disebut demikian karena bento dibawa untuk menonton pertunjukan Noh dan Kabuki lalu disantap dalam maki atau suasana yang berbeda.

Sedikit demi sedikit, kebiasaan membawa bento pun menyebar. Oleh karena itu, bento sangat digemari oleh para pelajar. Ia pun mulai bersekolah dengan membawa bento. Semenjak tahun 1912 hingga 1926, selama Perang Dunia Pertama, praktik membawa bento dihentikan ketika gerakan sosial melarang makan siang di sekolah. Dipercaya bahwa ini telah menjadi tempat memamerkan kekayaan sehingga menciptakan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin.

Kemudian, pada tahun 1980-an, bento menjadi populer lagi dan banyak toko telah menjualnya sejak saat itu. Isi bento mulai bervariasi, bukan hanya onigiri. Mereka menawarkan berbagai hidangan bento. Kemudian kita mulai membuat bento dan menghiasnya dengan gajah dan pelangi. Ibu rumah tangga menjadi kreatif dalam hal menyiapkan bento sebagai gantinya. Bento tidak lagi hanya sereal dan lauk dalam kotak, mereka dibentuk seperti binatang, buah-buahan atau karakter kartun yang lucu.

Boneka Penangkal Hujan ala Jepang

                                Foto: Boneka Penangkal Hujan di Jepang

Teru teru bōzu (てるてる坊主) adalah boneka tradisional buatan tangan yang terbuat dari kertas atau kain putih yang oleh petani Jepang petama mulai digantung di luar jendela mereka dengan benang. Azimat (jimat) ini memiliki kekuatan magis membuat cuaca menjadi baik dan untuk menghentikan atau mencegah hujan.”Teru” adalah kata kerja dalam bahasa jepang yang menjelaskan bercahaya, atau baik (cuaca) dan “bōzu” adalah Buddha rahib, atau jika dalam slang artinya “gundul.”

Teru teru bōzu menjadi populer selama periode Edo, anak-anak membuat teru-teru-bōzu dari kertas tisu atau kapas dan benang/senar dan menggantungkan boneka ini di jendela karena ingin cuaca yang cerah, sering dilakuan sebelum hari piknik sekolah. Jika digantung terbalik dengan kepala dibawah maka kerjanya seperti doa untuk hujan. Jadi jangan sampai salah membalik.

Ada warabe Uta (lagu anak-anak) yang terkenal, atau Japan nursery rhyme, terkait dengan teru teru bozu:
dalam tulisan Jepang dan di roman-kan:

てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれいつかの夢の空のように晴れたら金の鈴あげよ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo
てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれ私の願いを聞いたなら甘いお酒をたんと飲ましょ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomasho
てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれもしも曇って泣いてたらそなたの首をちょんと切るぞ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Moshi mo kumotte naitetara
Sonata no kubi wo chon to kiru zo

Translation:
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Seperti langit dalam mimpi
jika cuacanya cera Saya akan memberikan Anda bel emas
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Jika Anda ingin membuatnya menjadi kenyataan
Kami akan banyak minum sake manis
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Tetapi jika mendung dan anda menangis (hujan)
Lalu aku akan memotong putus kepalamu.

Lagu, ditulis oleh Kyoson Asahara dan disusun oleh Shinpei Nakayama, dirilis pada 1921. Seperti banyak sajak kanak-kanak, lagu ini dikabarkan memiliki sejarah yang lebih gelap daripada yang pertama kali muncul. Ini diduga berasal dari sebuah kisah tentang seorang biksu yang berjanji petani untuk menghentikan hujan dan membawa cuaca cerah selama periode berkepanjangan hujan yang merusak tanaman.

Ketika biarawan gagal untuk membawa sinar matahari, ia dihukum mati. Namun, percaya cerita ini dan lain-lain mengenai asal-usul Teru Teru bozu mungkin berasal dari tradisi lama setelah menjadi luas, kemungkinan besar dalam upaya untuk memperbaiki Citra boneka. Hal ini lebih mungkin bahwa “bōzu” dalam nama tidak menunjuk rahib Buddha yang sebenarnya, tetapi bulat, botak rahib-seperti kepala boneka, dan “Teru Teru” bercanda merujuk pada efek cahaya matahari terpantul sebuah botak.

~Adi~

    Teru teru bōzu (てるてる坊主) adalah boneka tradisional buatan tangan yang terbuat dari kertas atau kain putih yang oleh petani Jepang petama mulai digantung di luar jendela mereka dengan benang. Azimat (jimat) ini memiliki kekuatan magis membuat cuaca menjadi baik dan untuk menghentikan atau mencegah hujan.”Teru” adalah kata kerja dalam bahasa jepang yang menjelaskan bercahaya, atau baik (cuaca) dan “bōzu” adalah Buddha rahib, atau jika dalam slang artinya “gundul.”

Teru teru bōzu menjadi populer selama periode Edo, anak-anak membuat teru-teru-bōzu dari kertas tisu atau kapas dan benang/senar dan menggantungkan boneka ini di jendela karena ingin cuaca yang cerah, sering dilakuan sebelum hari piknik sekolah. Jika digantung terbalik dengan kepala dibawah maka kerjanya seperti doa untuk hujan. Jadi jangan sampai salah membalik.

Ada warabe Uta (lagu anak-anak) yang terkenal, atau Japan nursery rhyme, terkait dengan teru teru bozu:
dalam tulisan Jepang dan di roman-kan:

てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれいつかの夢の空のように晴れたら金の鈴あげよ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Itsuka no yume no sora no yō ni
Haretara kin no suzu ageyo
てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれ私の願いを聞いたなら甘いお酒をたんと飲ましょ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Watashi no negai wo kiita nara
Amai o-sake wo tanto nomasho
てるてるぼうず,てるぼうず明日天気にしておくれもしも曇って泣いてたらそなたの首をちょんと切るぞ
Teru-teru-bōzu, teru bōzu
Ashita tenki ni shite o-kure
Moshi mo kumotte naitetara
Sonata no kubi wo chon to kiru zo

Translation:
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Seperti langit dalam mimpi
jika cuacanya cera Saya akan memberikan Anda bel emas
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Jika Anda ingin membuatnya menjadi kenyataan
Kami akan banyak minum sake manis
Teru-teru-bozu, teru bozu
buat besok hari yang cerah
Tetapi jika mendung dan anda menangis (hujan)
Lalu aku akan memotong putus kepalamu.

Lagu, ditulis oleh Kyoson Asahara dan disusun oleh Shinpei Nakayama, dirilis pada 1921. Seperti banyak sajak kanak-kanak, lagu ini dikabarkan memiliki sejarah yang lebih gelap daripada yang pertama kali muncul. Ini diduga berasal dari sebuah kisah tentang seorang biksu yang berjanji petani untuk menghentikan hujan dan membawa cuaca cerah selama periode berkepanjangan hujan yang merusak tanaman.

Ketika biarawan gagal untuk membawa sinar matahari, ia dihukum mati. Namun, percaya cerita ini dan lain-lain mengenai asal-usul Teru Teru bozu mungkin berasal dari tradisi lama setelah menjadi luas, kemungkinan besar dalam upaya untuk memperbaiki Citra boneka. Hal ini lebih mungkin bahwa “bōzu” dalam nama tidak menunjuk rahib Buddha yang sebenarnya, tetapi bulat, botak rahib-seperti kepala boneka, dan “Teru Teru” bercanda merujuk pada efek cahaya matahari terpantul sebuah botak.

10 Aturan Memakai Sumpit Dengan Baik di jepang

                               Foto: 10 Aturan Memakai Sumpit Dengan Baik dan Benar

Orang Jepang memiliki aturan-aturan ketat dalam menggunakan sumpit (Ohashi).  Jika kamu makan dengan orang Jepang, mereka akan mengerti bahwa kamu tidak mengetahui etika dan aturan ala Jepang. Mereka mungkin akan memaafkan jika kamu melakukan beberapa kecerobohan besar. Tapi ga ada salahnya kan belajar budaya, aturan, dan etika memakai sumpit yang baik dan benar? Makan dengan sumpit adalah seni dan bahkan Jepang sendiri sering berjuang untuk bisa menggunakan sumpit dengan sempurna. Ada 10 aturan utama yang harus diikuti dalam menggunakan sumpit, ini dia,

1. Pegang sumpit dengan benar
Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Ini adalah bagian yang benar-benar membutuhkan waktu yang lama untuk menguasainya. Perhatikan bagaimana orang lain melakukannya dan berlatih dengan sabar. Jika kamu benar-benar ingin belajar Anda harus mendapatkan latihan sebanyak mungkin.

2. Jangan makan langsung dari piring lauk
Ketika kita makan dengan gaya Jepang, maka di tengah2 meja akan ada piring bersama yang berisi macam-macam lauk pauk. Jangan mengambil lauk kemudian langsung memasukkannya ke mulut, tapi setelah mengambil lauk di piring bersama, letakkan dulu di atas piringmu, baru boleh dimakan.

3. Gunakan alas sumpit
Banyak restoran Jepang akan memberikan alas sumpit. Kalau kamu sedang tidak menggunakan sumpit, taruh pada alas sumpit. Tapi kalau sumpit sekali pakai akan diberikan alas, jadi kita bisa membuat alas dari bungkus sumpit. Sumpit tidak boleh ditempatkan tegak di nasi karena hal ini menyerupai upacara dilakukan di pemakaman di Jepang.

4. Jangan menusuk makanan dengan sumpit
Jangan menggunakan sumpit untuk menusuk makanan yang akan kita makan. Hal ini dianggap serakah (sashi bashi).

5. Jangan menggali
Ambillah makanan dari bagian teratas. Jangan menggali di piring atau mangkok seperti sedang mencari sesuatu.

6. Jangan menjilat
Jangan menjilat ujung sumpit. (Neburi bashi)

7. Hati-hati memberikan makanan kepada orang lain
Jangan pernah berbagi makanan dengan lewat dari sumpit karena ini menyerupai kebiasaan di pemakaman Jepang ketika tulang dikremasi secara upacara dipindahkan ke guci. Ini mungkin adalah hal paling tabu yang dilakukan di meja makan Jepang.

8. Sumpit bukan mainan
Jangan menunjuk dengan sumpit Anda ketika berbicara atau memegang sumpit untuk waktu yang lama tanpa makan. Jangan pernah menggosok sumpit bersama-sama berulang-ulang karena merupakan tanda bahwa kamu berpikir bahwa sumpit itu murah.

9. Jangan meletakkan sumpit dalam keadaan tertumpuk menyilang (Seperti huruf X)
Posisi sumpit seperti ini juga mengingatkan orang Jepang pada upacara pemakaman.

10. Jangan gunakan sumpit untuk mengaduk sup
Walaupun sup miso yang tersaji kamu anggap kurang rata dan perlu diaduk, jangan gunakan sumpitmu untuk melakukannya.

Secara umum aturan yang paling penting adalah jangan lakukan hal-hal yang bisa mengingatkan orang-orang dengan prosesi pemakaman Jepang.  Aturan menggunakan sumpit memang menantang bagi semua orang dan bahkan orang-orang Jepang sendiri jarang yang mahir menggunakan sumpit dengan baik dan benar.

~Adi~

Orang Jepang memiliki aturan-aturan ketat dalam menggunakan sumpit (Ohashi). Jika kamu makan dengan orang Jepang, mereka akan mengerti bahwa kamu tidak mengetahui etika dan aturan ala Jepang. Mereka mungkin akan memaafkan jika kamu melakukan beberapa kecerobohan besar. Tapi ga ada salahnya kan belajar budaya, aturan, dan etika memakai sumpit yang baik dan benar? Makan dengan sumpit adalah seni dan bahkan Jepang sendiri sering berjuang untuk bisa menggunakan sumpit dengan sempurna. Ada 10 aturan utama yang harus diikuti dalam menggunakan sumpit, ini dia,

1. Pegang sumpit dengan benar
Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Ini adalah bagian yang benar-benar membutuhkan waktu yang lama untuk menguasainya. Perhatikan bagaimana orang lain melakukannya dan berlatih dengan sabar. Jika kamu benar-benar ingin belajar Anda harus mendapatkan latihan sebanyak mungkin.

2. Jangan makan langsung dari piring lauk
Ketika kita makan dengan gaya Jepang, maka di tengah2 meja akan ada piring bersama yang berisi macam-macam lauk pauk. Jangan mengambil lauk kemudian langsung memasukkannya ke mulut, tapi setelah mengambil lauk di piring bersama, letakkan dulu di atas piringmu, baru boleh dimakan.

3. Gunakan alas sumpit
Banyak restoran Jepang akan memberikan alas sumpit. Kalau kamu sedang tidak menggunakan sumpit, taruh pada alas sumpit. Tapi kalau sumpit sekali pakai akan diberikan alas, jadi kita bisa membuat alas dari bungkus sumpit. Sumpit tidak boleh ditempatkan tegak di nasi karena hal ini menyerupai upacara dilakukan di pemakaman di Jepang.

4. Jangan menusuk makanan dengan sumpit
Jangan menggunakan sumpit untuk menusuk makanan yang akan kita makan. Hal ini dianggap serakah (sashi bashi).

5. Jangan menggali
Ambillah makanan dari bagian teratas. Jangan menggali di piring atau mangkok seperti sedang mencari sesuatu.

6. Jangan menjilat
Jangan menjilat ujung sumpit. (Neburi bashi)

7. Hati-hati memberikan makanan kepada orang lain
Jangan pernah berbagi makanan dengan lewat dari sumpit karena ini menyerupai kebiasaan di pemakaman Jepang ketika tulang dikremasi secara upacara dipindahkan ke guci. Ini mungkin adalah hal paling tabu yang dilakukan di meja makan Jepang.

8. Sumpit bukan mainan
Jangan menunjuk dengan sumpit Anda ketika berbicara atau memegang sumpit untuk waktu yang lama tanpa makan. Jangan pernah menggosok sumpit bersama-sama berulang-ulang karena merupakan tanda bahwa kamu berpikir bahwa sumpit itu murah.

9. Jangan meletakkan sumpit dalam keadaan tertumpuk menyilang (Seperti huruf X)
Posisi sumpit seperti ini juga mengingatkan orang Jepang pada upacara pemakaman.

10. Jangan gunakan sumpit untuk mengaduk sup
Walaupun sup miso yang tersaji kamu anggap kurang rata dan perlu diaduk, jangan gunakan sumpitmu untuk melakukannya.

Secara umum aturan yang paling penting adalah jangan lakukan hal-hal yang bisa mengingatkan orang-orang dengan prosesi pemakaman Jepang. Aturan menggunakan sumpit memang menantang bagi semua orang dan bahkan orang-orang Jepang sendiri jarang yang mahir menggunakan sumpit dengan baik dan benar.

Dakko Chan, Boneka Hitam Jepang yang Kontroversial

                               Foto: Dakko Chan, Boneka Hitam Jepang yang Kontroversial

Ketika dipasarkan, boneka ini disebut Kinobori Winky (Winky Pemanjat Pohon) atau Kurombo Bura (Bura Si Hitam; bura berasal dari kata black). Kedua belah tangan boneka ini membentuk lingkaran seperti sedang memeluk (dakko), bagaikan koala sedang memeluk pohon. Sesuai dengan namanya, Dakko-chan bisa dipasang di lengan seperti sedang memeluk pemiliknya. Pada waktu itu, Dakko-chan dijual dengan harga \180. Pencipta karakter Dakko-chan bernama Kigen Ōki yang waktu itu masih kuliah di Universitas Seni Musashino. Sejak mulai dipasarkan pada bulan Juli 1960, boneka ini laris di kalangan wanita muda yang memasang Dakko-chan di lengan mereka sewaktu berjalan-jalan. Tren memasang boneka di lengan oleh wanita muda di Jepang diliput media massa yang menyebut mainan tersebut sebagai Dakko-chan. Setelah diberitakan di televisi, mainan ini laku keras sehingga toko mainan dan toko serba ada kehabisan stok dan pabrik tidak mampu memenuhi pesanan. Toserba terpaksa membagikan karcis antrian kepada calon pembeli yang kemudian dijual oleh para calo.

Hingga akhir tahun 1960, Dakko-chan terjual lebih dari 2.400.000 buah. Ketika sedang populer, produsen tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Dakko-chan mudah dibuat sehingga di pasaran diramaikan oleh barang palsu. Ciri khas Dakko-chan asli adalah mata dari stiker khusus yang bagaikan berkedip bila dilihat dari sudut pengamatan tertentu, sedangkan mata Dakko-chan palsu tidak bisa berkedip. Berkat membanjirnya barang palsu, Dakko-chan menjadi mainan yang mewakili dekade 1960-an. Takara kemudian mengganti desain Dakko-chan, dan menggunakan slogan baru untuk Dakko-chan di iklan televisi. Bukan hanya boneka plastik berisi udara, mainan ini juga dibuat dalam berbagai jenis produk. Kepopuleran Dakko-chan ternyata cepat surut, dan produksi dihentikan.

harajuku_dacco-chanPada tahun 1975, Dakko-chan dibuatkan edisi cetak ulang untuk memperingati 20 tahun Takara. Sekitar tahun 1988, penggambaran stereotipe kulit hitam dalam anime dan manga dianggap sebagai bentuk diskriminasi sehingga penerbit harus menarik kembali produk mereka. Desain dan warna Dakko-chan juga diganti sebelum akhirnya produksi kembali dihentikan. Gambar Dakko-chan yang dipakai sebagai logo perusahaan Takara juga tidak dipakai lagi sejak 1990. Setelah berganti warna, Dakko-chan diproduksi pada tahun 1997 oleh anak perusahaan Takara. Penjualan kembali dihentikan setelah rok rajutan dan bibir Dakko-chan dikritik sebagai bentuk diskriminasi orang kulit hitam.Pada 2001, Dakko-chan dihidupkan kembali, namanya ditulis dengan aksara hiragana. Rok rajutan dan bibir tebal Dakko-chan sudah dihilangkan. Dakko-chan versi baru digambarkan memiliki ekor, dan dibuat dalam beberapa warna, di antaranya hitam, merah jambu, dan biru.

~Adi~

    Ketika dipasarkan, boneka ini disebut Kinobori Winky (Winky Pemanjat Pohon) atau Kurombo Bura (Bura Si Hitam; bura berasal dari kata black). Kedua belah tangan boneka ini membentuk lingkaran seperti sedang memeluk (dakko), bagaikan koala sedang memeluk pohon. Sesuai dengan namanya, Dakko-chan bisa dipasang di lengan seperti sedang memeluk pemiliknya. Pada waktu itu, Dakko-chan dijual dengan harga \180. Pencipta karakter Dakko-chan bernama Kigen Ōki yang waktu itu masih kuliah di Universitas Seni Musashino. Sejak mulai dipasarkan pada bulan Juli 1960, boneka ini laris di kalangan wanita muda yang memasang Dakko-chan di lengan mereka sewaktu berjalan-jalan. Tren memasang boneka di lengan oleh wanita muda di Jepang diliput media massa yang menyebut mainan tersebut sebagai Dakko-chan. Setelah diberitakan di televisi, mainan ini laku keras sehingga toko mainan dan toko serba ada kehabisan stok dan pabrik tidak mampu memenuhi pesanan. Toserba terpaksa membagikan karcis antrian kepada calon pembeli yang kemudian dijual oleh para calo.

Hingga akhir tahun 1960, Dakko-chan terjual lebih dari 2.400.000 buah. Ketika sedang populer, produsen tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Dakko-chan mudah dibuat sehingga di pasaran diramaikan oleh barang palsu. Ciri khas Dakko-chan asli adalah mata dari stiker khusus yang bagaikan berkedip bila dilihat dari sudut pengamatan tertentu, sedangkan mata Dakko-chan palsu tidak bisa berkedip. Berkat membanjirnya barang palsu, Dakko-chan menjadi mainan yang mewakili dekade 1960-an. Takara kemudian mengganti desain Dakko-chan, dan menggunakan slogan baru untuk Dakko-chan di iklan televisi. Bukan hanya boneka plastik berisi udara, mainan ini juga dibuat dalam berbagai jenis produk. Kepopuleran Dakko-chan ternyata cepat surut, dan produksi dihentikan.

harajuku_dacco-chanPada tahun 1975, Dakko-chan dibuatkan edisi cetak ulang untuk memperingati 20 tahun Takara. Sekitar tahun 1988, penggambaran stereotipe kulit hitam dalam anime dan manga dianggap sebagai bentuk diskriminasi sehingga penerbit harus menarik kembali produk mereka. Desain dan warna Dakko-chan juga diganti sebelum akhirnya produksi kembali dihentikan. Gambar Dakko-chan yang dipakai sebagai logo perusahaan Takara juga tidak dipakai lagi sejak 1990. Setelah berganti warna, Dakko-chan diproduksi pada tahun 1997 oleh anak perusahaan Takara. Penjualan kembali dihentikan setelah rok rajutan dan bibir Dakko-chan dikritik sebagai bentuk diskriminasi orang kulit hitam.Pada 2001, Dakko-chan dihidupkan kembali, namanya ditulis dengan aksara hiragana. Rok rajutan dan bibir tebal Dakko-chan sudah dihilangkan. Dakko-chan versi baru digambarkan memiliki ekor, dan dibuat dalam beberapa warna, di antaranya hitam, merah jambu, dan biru.

Minggu, 06 Oktober 2013

14 Alasan Anda Harus Membungkuk Di Jepang

   Membungkuk dan menundukkan kepala di Jepang dapat digunakan sebagai salam, perkenalan, menunjukkan rasa hormat atau permintaan maaf. Terdapat beberapa jenis membungkuk di Jepang yang akan berguna jika Anda mengetahuinya.

1. Salam

Adalah hal yang umum untuk memberi sekitar 10° anggukan kepala dan bahu untuk memberi salam pada seorang teman. Ini juga berlaku saat kita mengucapkan selamat tinggal.

2. Perkenalan

Baik perkenalan formal maupun santai diharapkan untuk membungkuk sekitar 30 ° menggunakan tubuh bagian atas Anda. Sangat penting untuk menjaga kepala dan bahu Anda lurus dan tangan ke samping.

Setelah bertukar kartu nama, membungkuklah sekitar 1 detik atau lebih. Jangan melakukan kontak mata karena akan dianggap tidak sopan, serta perhatikan jarak Anda sehingga tidak terjadi benturan kepala (hal itu sering terjadi).

Jika orang yang Anda temui sangat penting, membungkuklah sedalam 45°. Jangan membungkuk dan berjabat tangan pada saat yang bersamaan.

3. Membungkuk Atas Rasa Hormat

Membungkuk adalah ekspresi kerendahan hati. Hal itu selalu berarti menunjukkan rasa hormat kita kepada pihak lain.

4. Membungkuk Untuk Sportivitas

Membungkuk atas rasa hormat lainnya adalah membungkuk antar lawan sebelum pertandingan olahraga. Dalam hal ini, membungkuk yang sering dilakukan adalah membungkuk dangkal 20 °.

5. Membungkuk Untuk Urusan Agama

Adalah hal yang umum untuk membungkuk kepada para dewa di kuil Shinto. Di sini kita melakukan membungkuk dangkal menggunakan tubuh bagian atas.

6. Membungkuk Dalam Seni Bela Diri

Seni bela diri Jepang memiliki kaidah mereka sendiri dalam hal membungkuk. Membungkuk dimaksudkan untuk memberi hormat kepada sensei (guru) Anda. Merupakan hal yang sangat penting juga untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan Anda.

7. Membungkuk Pada Pelanggan

Di Jepang, pelanggan dianggap dewa (semacam itu). Hal umum bagi para staf untuk membungkuk kepada pelanggan, biasanya membungkuk dengan tubuh bagian atas sekitar 20 °.

8. Membungkuk Sebagai Rasa Terima Kasih

Jika seseorang mempersilakan Anda menyalip jalan mereka, suatu hal yang umum untuk membungkuk kecil menggunakan kepala sebagai tanda terima kasih. Bahkan umum untuk pengendara mobil saling membungkuk untuk sedikit kesopanan.

Pada pernikahan Jepang suatu hal yang umum untuk pengantin wanita untuk memberikan kata-kata sambutan yang menyentuh kepada orang tuanya – untuk mengucapkan terima kasih atas seluruh dukungan mereka selama ini. Di bawah adalah pengantin yang membungkuk hormat saat ia memberi hadiah bunga pada ibunya.

9. Membungkuk Pada Pertunjukan

Seperti halnya di Barat, hal yang umum dilakukan oleh para performer untuk membungkuk sebagai respon dari tepuk tangan yang diberikan untuknya, dan biasanya mereka membungkuk kecil. Di bawah ini tampak dua orang Geisha membungkuk dengan sangat dalam.

10. Permintaan Maaf Ringan

Untuk permintaan maaf ringan kita membungkuk dengan kepala 10 °. Hal ini dapat digunakan jika Anda bersenggolan dengan orang asing atau saat kita menyebabkan ketidaknyamanan kecil kepada seseorang. Sebagai contoh, jika seseorang menahan pintu lift untuk Anda. Katakanlah sumimasen (permisi atau maaf).

11. Permintaan Maaf Biasa

Jika bos Anda marah pada Anda, lakukanlah membungkuk 45 ° dengan tubuh bagian atas. Tahan selama 5 detik. Katakanlah sumimasen deshita (aku minta maaf atas apa yang telah kulakukan).

12. Permintaan Maaf Serius

Katakanlah Anda adalah seorang CEO di sebuah perusahaan dan perusahaan Anda merilis produk cacat. Pada konferensi pers Anda sebaiknya meminta maaf dengan membungkuk 45 ° dengan tubuh bagian atas dalam waktu yang agak lama, biasanya selama 15 hingga 20 detik. Katakanlah moushiwake gozaimasen deshita (aku sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan).

13. Permintaan Maaf Dengan Panik

Katakanlah Anda adalah seorang pelayan dan Anda menumpahkan kopi panas kepada seorang pelanggan. Anda akan membungkuk sedalam ° 45 secara berulang kali untuk menunjukkan betapa menyesalnya Anda. Ulangi kata-kata moushiwake gozaimasen (aku sangat menyesal) setiap kali Anda membungkuk.

Ini juga adalah cara orang-orang meminta maaf kepada yakuza dalam film-film.

14. Permintaan Maaf Sangat Serius

Katakanlah Anda telah melakukan kejahatan serius dan Anda meminta maaf kepada para korban. Anda akan membungkuk dengan posisi berlutut. Katakanlah makoto ni moushiwake gozaimasen deshita (aku meminta maaf dengan tulus atas apa yang aku lakukan).

Membungkuk Yang Tidak Masuk Akal

Sebagai tambahan dari fungsi-fungsi membungkuk di atas, orang Jepang juga memiliki beberapa bentuk membungkuk yang tidak masuk akal. Misalnya, mereka kadang-kadang membungkuk saat mengadakan hubungan telpon XD

Tradisi Adopsi Orang Dewasa ala Jepang

   Secara historis, kasus semacam ini lebih sering terjadi pada keluarga-keluarga di bagian barat Jepang di mana keluarga pebisnis mencoba mencari sosok yang dianggap paling cocok sebagai penerus. Intinya kalau tak ada anak laki-laki yang dianggap cocok untuk meneruskan garis dan busnis keluarga, maka sosok itu bisa dicari dengan mengawinkan anak perempuan dengan menantu yang handal mengurus usaha. Bahkan hingga hari ini sebagian besar perusahaan Jepang, termasuk raksasa industri yang dikenal dunia, dianggap sebagai perusahaan keluarga. Termasuk diantaranya pabrikan mobil Toyota dan Suzuki, pembuat kamera Canon serta perusahaan spesialis saus dan kecap, Kikkoman.

Suzuki misalnya, beberapa kali berada dibawah kendali anak adopsi. Pimpinan tertinggi Suzuki saat ini, Osamu Suzuki, adalah anak adopsi keempat dalam sejarah perusahaan itu. Bisnis keluaraga yang dijalankan oleh menantu lelaki biasanya malah jauh lebih bagus pertumbuhannya dibanding kalau dijalankan oleh anak laki-laki sendiri. Di Matsui Securities, sebuah perusahaan sekuritas tua di Jepang, pimpinannya saat ini Michio Matsui juga diadopsi meski dengan konsekuensi harus menanggalkan nama keluarganya sendiri. Pentingnya melanjutkan garis keturunan dan mempertahankan kelangsungan bisnis membuat Chieko Date membuka situs perjodohan dimana calon suami harus bersedia diadopsi oleh keluarga istrinya kelak. Ada yang berminat menjadi anak adopsi?

Lima Prinsip Pengambilan Keputusan di Jepang

                                       Foto: Lima Prinsip Pengambilan Keputusan di Jepang 

Prinsip yang akan dibahas disini adalah prinsip 5 Gen yang berasal dari bahasa Jepang dan sangat populer serta telah menjadi dasar pemikiran oleh perusahaan-perusahaan yang mengikuti budaya Manufakturing Jepang dalam hal melakukan peningkatan yang berkesinambungan dan aktifitas pemecahan masalah.

Prinsip 5 Gen ini sebenarnya adalah pengembangan dari Prinsip 3 Gen yang sudah terkenal luas yakni GENBA, GENBATSU, dan GENJITSU. Bagi yang sudah mengenal Lean Manufacturing, maka Genba sudah tidak asing lagi. Karena dalam Lean manufacturing, genba adalah suatu kegiatan yang berkunjung ke lapangan (tempat kerja yang sebenarnya) untuk melakukan studi atau analisa langsung terhadap kesempatan peningkatan secara terus menerus (Kaizen) dalam hal menghindari Pemborosan (Waste/muda) yang terjadi dalam Produksi atau Industri.

Prinsip 5 Gen ini dipergunakan oleh Manajemen du produksi sebagai pedoman untuk menganalisa permasalahan yang terjadi dan mencari faktor penyebab permasalahan tersebut sehingga dapat diselesaikan dengan baik secara efisien dan efektif.

Kata “5 gen” berasal dari huruf pertama dari 5 kata dalam bahasa Jepang yaitu Genri. Gensoku, Genba, Genbutsu dan Genjitsu. Berikut ini adalah pembahasan singkatnya:

1.  GENRI / THEORY

Genri jika diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia adalah Teori atau Prinsip. Genri disini diartikan dengan mengikuti atau berdasarkan Prinsip Teori umum dan pendekatan ilmiah dalam penyelesaian masalah atau melakukan peningkatan/perbaikan proses yang terus menerus.

2. GENSOKU / RULES

Arti dari gensoku dalam Bahasa Indonesia adalah peraturan atau prosedur dalam melakukan pemecahan masalah serta melakukan peningkatan proses (Process Improvement). 

3. GENBA / REAL PLACE

Prinsip Genba menuntut setiap karyawan baik itu staff maupun manajemen untuk pergi ke tempat atau lokasi di mana suatu permasalahan tersebut terjadi supaya dapat memastikan sendiri atau mengetahui lebih jelas mengenai permasalahn tersebut. Genba jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah tempat kejadian sebenarnya atau lebih dikenal dengan istilah TKP (tempat kejadian perkara).

4. GENBUTSU / ACTUAL THINGS

Genbutsu adalah benda atau kondisi yang sebenarnya. Disini Manajemen dituntut untuk melihat suatu kejadian atau benda dengan matanya sendiri atau rasakan sendiri serta sentuh dengan tangannya sendiri.

5. GENJITSU / REALITY

Genjitsu adalah kenyataan yang harus dirasakan seperti gejala-gejala (symptom) permasalahan dan pengaruhnya terhadap proses produksi meupun proses kerja dalam suatu industri.

Dengan adanya lima pedoman gen ini, diharapkan manajemen di produksi tidak hanya mengambil suatu keputusan melalui informasi dam laporan dari bawahannya. Tetapi dengan melihat dan merasakannya langsung gejala (Symptom) dari suatu permasalahan. Dengan demikian, keputusan yang akan diambil lebih akurat, efektif serta efisien.

~Adi~   

Prinsip yang akan dibahas disini adalah prinsip 5 Gen yang berasal dari bahasa Jepang dan sangat populer serta telah menjadi dasar pemikiran oleh perusahaan-perusahaan yang mengikuti budaya Manufakturing Jepang dalam hal melakukan peningkatan yang berkesinambungan dan aktifitas pemecahan masalah.

Prinsip 5 Gen ini sebenarnya adalah pengembangan dari Prinsip 3 Gen yang sudah terkenal luas yakni GENBA, GENBATSU, dan GENJITSU. Bagi yang sudah mengenal Lean Manufacturing, maka Genba sudah tidak asing lagi. Karena dalam Lean manufacturing, genba adalah suatu kegiatan yang berkunjung ke lapangan (tempat kerja yang sebenarnya) untuk melakukan studi atau analisa langsung terhadap kesempatan peningkatan secara terus menerus (Kaizen) dalam hal menghindari Pemborosan (Waste/muda) yang terjadi dalam Produksi atau Industri.

Prinsip 5 Gen ini dipergunakan oleh Manajemen du produksi sebagai pedoman untuk menganalisa permasalahan yang terjadi dan mencari faktor penyebab permasalahan tersebut sehingga dapat diselesaikan dengan baik secara efisien dan efektif.

Kata “5 gen” berasal dari huruf pertama dari 5 kata dalam bahasa Jepang yaitu Genri. Gensoku, Genba, Genbutsu dan Genjitsu. Berikut ini adalah pembahasan singkatnya:

1. GENRI / THEORY

Genri jika diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia adalah Teori atau Prinsip. Genri disini diartikan dengan mengikuti atau berdasarkan Prinsip Teori umum dan pendekatan ilmiah dalam penyelesaian masalah atau melakukan peningkatan/perbaikan proses yang terus menerus.

2. GENSOKU / RULES

Arti dari gensoku dalam Bahasa Indonesia adalah peraturan atau prosedur dalam melakukan pemecahan masalah serta melakukan peningkatan proses (Process Improvement). 

3. GENBA / REAL PLACE

Prinsip Genba menuntut setiap karyawan baik itu staff maupun manajemen untuk pergi ke tempat atau lokasi di mana suatu permasalahan tersebut terjadi supaya dapat memastikan sendiri atau mengetahui lebih jelas mengenai permasalahn tersebut. Genba jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah tempat kejadian sebenarnya atau lebih dikenal dengan istilah TKP (tempat kejadian perkara).

4. GENBUTSU / ACTUAL THINGS

Genbutsu adalah benda atau kondisi yang sebenarnya. Disini Manajemen dituntut untuk melihat suatu kejadian atau benda dengan matanya sendiri atau rasakan sendiri serta sentuh dengan tangannya sendiri.

5. GENJITSU / REALITY

Genjitsu adalah kenyataan yang harus dirasakan seperti gejala-gejala (symptom) permasalahan dan pengaruhnya terhadap proses produksi meupun proses kerja dalam suatu industri.

Dengan adanya lima pedoman gen ini, diharapkan manajemen di produksi tidak hanya mengambil suatu keputusan melalui informasi dam laporan dari bawahannya. Tetapi dengan melihat dan merasakannya langsung gejala (Symptom) dari suatu permasalahan. Dengan demikian, keputusan yang akan diambil lebih akurat, efektif serta efisien.

Rabu, 02 Oktober 2013

Pantai Akajima, Jernih dan indah

   Pantai Akajima Okinawa Jepang, merupakan salah satu pantai dengan air yang jernih, dan karena sangat bersih, air pantai ini terlihat transaran, tidak hanya itu pantai ini juga memiliki pemandangan yang dapat menyegarkan mata. Pantai Akajima dikenal sebagai pantai yang paling transparan (50-60M tranparansi). Pulau-pulau didekat pantai Akajima juga dikenal sebagai salah satu tujuan terbaik menyelam dan memiliki jumlah spesies karang serta kehidupan laut yang besar (lebih dari 400 jenis karang, 5 jenis penyu laut, dari pari manta, hiu paus dan segala macam spesies ikan tropis semua tinggal di Okinawa)

Pulau kecil dari Akajima cukup populer di kalangan trippers Jepang selama musim panas berlangsung. Untuk itu, Akajima mempertahankan pesonanya. Pantai yang bersih ini, biasanya hanya dihiasi oleh beberapa peselancar Jepang dan warga disekitar pantai yang ramah.

Perjalanan ke Akajima dari Tomari Pelabuhan Naha di Okinawa dapat dilalui dengan kapal ekspres selama satu jam.


  Foto: Pantai Akajima, Jernih dan Transparan

Pantai Akajima Okinawa Jepang, merupakan salah satu pantai dengan air yang jernih, dan karena sangat bersih, air pantai ini terlihat transaran, tidak hanya itu pantai ini juga memiliki pemandangan yang dapat menyegarkan mata. Pantai Akajima dikenal sebagai pantai yang paling transparan (50-60M tranparansi). Pulau-pulau didekat pantai Akajima juga dikenal sebagai salah satu tujuan terbaik menyelam dan memiliki jumlah spesies karang serta kehidupan laut yang besar (lebih dari 400 jenis karang, 5 jenis penyu laut, dari pari manta, hiu paus dan segala macam spesies ikan tropis semua tinggal di Okinawa)

Pulau kecil dari Akajima cukup populer di kalangan trippers Jepang selama musim panas berlangsung. Untuk itu, Akajima mempertahankan pesonanya. Pantai yang bersih ini, biasanya hanya dihiasi oleh beberapa peselancar Jepang dan warga disekitar pantai yang ramah.

Perjalanan ke Akajima dari Tomari Pelabuhan Naha di Okinawa dapat dilalui dengan kapal ekspres selama satu jam.

~Adi~

Pandangan Wanita Jepang Terhadap Pria Indonesia

                                     Foto: Pandangan Wanita Jepang Terhadap Pria Indonesia

Secara keseluruhan di Jepang, penduduk pria lebih banyak daripada wanita. Dalam keluarga, perempuan bertanggung jawab semuanya, mulai dari mengurus suami dan rumah tangga. Tugas suami hanyalah bekerja mencari nafkah.  Manga dan film-film Jepang, baik seting lama maupun baru pun secara tidak langsung menunjukan hal tersebut. Jika satu keluarga akan berpergian, maka sang istrilah yang menyiapkan semuanya. Bahkan, sampai menyiapkan dan memasukan semua barang ke dalam mobil pun di lakukan oleh istri. Suami tinggal masuk mobil dan menyetir. Yang sering terlihat di mall atau di taman pun sama. Suami tidak pernah direpotkan dengan urusan anak. Anak belepotan makanan, baju kotor, ganti topi, membersihkan muka, dan semua tugas kecil dilakukan semuanya oleh istri.

Tampaknya, bagaimana pria lebih superior dari wanita sudah terlihat sejak remaja. Lebih dari sekali terlihat, pasangan remaja, jika berpergian, maka yang membawa tas atau beban lebih banyak adalah yang wanitanya. Bahkan satu dua kali terlihat jika hanya ada satu sepeda, maka yang pria yang naik sepeda, sementara yang wanita jalan!

Itulah budaya Jepang dan tampaknya tidak ada masalah dengannya. Ini terbukti, dengan budaya yang sudah ratusan tahun itu, Jepang tetap bertahan dan maju sampai seperti sekarang.

Namun tampaknya pandangan beberapa wanita Jepang tentang budaya itu sedikit berubah saat mengenal lebih dekat kehidupan warga Indonesia di sana. Di wilayah Jepang, tepatnya di Sapporo, banyak pekerja dan mahasiswa Indonesia yang tinggal disana. Wanita-wanita Jepang ini mulai heran melihat kebiaasaan sederhana penduduk pria Indonesia yaitu melihat suami mencuci piring, atau suami membawa belanjaan di mall, atau suami yang menutup dan mengunci pintu saat sekeluarga berpergian, atau suami membantu mengganti baju anak di taman atau menyuapkan makanan kepada anaknya. Hal yang luar biasa juga untuk mereka melihat suami memasak dan menyiapkan makanan untuk istrinya, atau bermain dengan anak sementara istrinya duduk dan membaca.

Mereka pun merasa heran jika melihat mahasiswa pria selalu mengantarkan dan tidak membiarkan mahasiswi pulang sendirian malam-malam. Jepang adalah salah satu negara teraman di dunia. Tidak ada kekhawatiran untuk pulang malam sendirian. Mereka lebih heran lagi jika tahu alasan mengantar tersebut bukan karena takut ada apa-apa di jalan, tapi karena menghargai mereka. Mereka juga akan terheran-heran jika ada yang rela memberikan sepedanya untuk dinaiki sementara yang punyanya berjalan.

Mereka melihat bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya yang lebih baik dibanding dengan budaya mereka, khususnya dalam hubungan pria dan wanita. Dua dari tiga teman wanita Jepang jika ditanya apakah suka dengan pria Indonesia, maka mereka menjawab suka dan yang ketiganya bahkan ingin menikah dengan pria Indonesia. Mereka memandang, pria Indonesia sangat menjunjung wanita, rela berkorban dan bertangggung jawab. Bahkan kebanyakan wanita Jepang, suka dengan pria Indonesia karena kulitnya yang sawo matang.

~Adi~
    Secara keseluruhan di Jepang, penduduk pria lebih banyak daripada wanita. Dalam keluarga, perempuan bertanggung jawab semuanya, mulai dari mengurus suami dan rumah tangga. Tugas suami hanyalah bekerja mencari nafkah. Manga dan film-film Jepang, baik seting lama maupun baru pun secara tidak langsung menunjukan hal tersebut. Jika satu keluarga akan berpergian, maka sang istrilah yang menyiapkan semuanya. Bahkan, sampai menyiapkan dan memasukan semua barang ke dalam mobil pun di lakukan oleh istri. Suami tinggal masuk mobil dan menyetir. Yang sering terlihat di mall atau di taman pun sama. Suami tidak pernah direpotkan dengan urusan anak. Anak belepotan makanan, baju kotor, ganti topi, membersihkan muka, dan semua tugas kecil dilakukan semuanya oleh istri.

Tampaknya, bagaimana pria lebih superior dari wanita sudah terlihat sejak remaja. Lebih dari sekali terlihat, pasangan remaja, jika berpergian, maka yang membawa tas atau beban lebih banyak adalah yang wanitanya. Bahkan satu dua kali terlihat jika hanya ada satu sepeda, maka yang pria yang naik sepeda, sementara yang wanita jalan!

Itulah budaya Jepang dan tampaknya tidak ada masalah dengannya. Ini terbukti, dengan budaya yang sudah ratusan tahun itu, Jepang tetap bertahan dan maju sampai seperti sekarang.

Namun tampaknya pandangan beberapa wanita Jepang tentang budaya itu sedikit berubah saat mengenal lebih dekat kehidupan warga Indonesia di sana. Di wilayah Jepang, tepatnya di Sapporo, banyak pekerja dan mahasiswa Indonesia yang tinggal disana. Wanita-wanita Jepang ini mulai heran melihat kebiaasaan sederhana penduduk pria Indonesia yaitu melihat suami mencuci piring, atau suami membawa belanjaan di mall, atau suami yang menutup dan mengunci pintu saat sekeluarga berpergian, atau suami membantu mengganti baju anak di taman atau menyuapkan makanan kepada anaknya. Hal yang luar biasa juga untuk mereka melihat suami memasak dan menyiapkan makanan untuk istrinya, atau bermain dengan anak sementara istrinya duduk dan membaca.

Mereka pun merasa heran jika melihat mahasiswa pria selalu mengantarkan dan tidak membiarkan mahasiswi pulang sendirian malam-malam. Jepang adalah salah satu negara teraman di dunia. Tidak ada kekhawatiran untuk pulang malam sendirian. Mereka lebih heran lagi jika tahu alasan mengantar tersebut bukan karena takut ada apa-apa di jalan, tapi karena menghargai mereka. Mereka juga akan terheran-heran jika ada yang rela memberikan sepedanya untuk dinaiki sementara yang punyanya berjalan.

Mereka melihat bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya yang lebih baik dibanding dengan budaya mereka, khususnya dalam hubungan pria dan wanita. Dua dari tiga teman wanita Jepang jika ditanya apakah suka dengan pria Indonesia, maka mereka menjawab suka dan yang ketiganya bahkan ingin menikah dengan pria Indonesia. Mereka memandang, pria Indonesia sangat menjunjung wanita, rela berkorban dan bertangggung jawab. Bahkan kebanyakan wanita Jepang, suka dengan pria Indonesia karena kulitnya yang sawo matang.