Dynamic Blinkie Text Generator at TextSpace.net

Rabu, 02 Oktober 2013

Pantai Akajima, Jernih dan indah

   Pantai Akajima Okinawa Jepang, merupakan salah satu pantai dengan air yang jernih, dan karena sangat bersih, air pantai ini terlihat transaran, tidak hanya itu pantai ini juga memiliki pemandangan yang dapat menyegarkan mata. Pantai Akajima dikenal sebagai pantai yang paling transparan (50-60M tranparansi). Pulau-pulau didekat pantai Akajima juga dikenal sebagai salah satu tujuan terbaik menyelam dan memiliki jumlah spesies karang serta kehidupan laut yang besar (lebih dari 400 jenis karang, 5 jenis penyu laut, dari pari manta, hiu paus dan segala macam spesies ikan tropis semua tinggal di Okinawa)

Pulau kecil dari Akajima cukup populer di kalangan trippers Jepang selama musim panas berlangsung. Untuk itu, Akajima mempertahankan pesonanya. Pantai yang bersih ini, biasanya hanya dihiasi oleh beberapa peselancar Jepang dan warga disekitar pantai yang ramah.

Perjalanan ke Akajima dari Tomari Pelabuhan Naha di Okinawa dapat dilalui dengan kapal ekspres selama satu jam.


  Foto: Pantai Akajima, Jernih dan Transparan

Pantai Akajima Okinawa Jepang, merupakan salah satu pantai dengan air yang jernih, dan karena sangat bersih, air pantai ini terlihat transaran, tidak hanya itu pantai ini juga memiliki pemandangan yang dapat menyegarkan mata. Pantai Akajima dikenal sebagai pantai yang paling transparan (50-60M tranparansi). Pulau-pulau didekat pantai Akajima juga dikenal sebagai salah satu tujuan terbaik menyelam dan memiliki jumlah spesies karang serta kehidupan laut yang besar (lebih dari 400 jenis karang, 5 jenis penyu laut, dari pari manta, hiu paus dan segala macam spesies ikan tropis semua tinggal di Okinawa)

Pulau kecil dari Akajima cukup populer di kalangan trippers Jepang selama musim panas berlangsung. Untuk itu, Akajima mempertahankan pesonanya. Pantai yang bersih ini, biasanya hanya dihiasi oleh beberapa peselancar Jepang dan warga disekitar pantai yang ramah.

Perjalanan ke Akajima dari Tomari Pelabuhan Naha di Okinawa dapat dilalui dengan kapal ekspres selama satu jam.

~Adi~

Pandangan Wanita Jepang Terhadap Pria Indonesia

                                     Foto: Pandangan Wanita Jepang Terhadap Pria Indonesia

Secara keseluruhan di Jepang, penduduk pria lebih banyak daripada wanita. Dalam keluarga, perempuan bertanggung jawab semuanya, mulai dari mengurus suami dan rumah tangga. Tugas suami hanyalah bekerja mencari nafkah.  Manga dan film-film Jepang, baik seting lama maupun baru pun secara tidak langsung menunjukan hal tersebut. Jika satu keluarga akan berpergian, maka sang istrilah yang menyiapkan semuanya. Bahkan, sampai menyiapkan dan memasukan semua barang ke dalam mobil pun di lakukan oleh istri. Suami tinggal masuk mobil dan menyetir. Yang sering terlihat di mall atau di taman pun sama. Suami tidak pernah direpotkan dengan urusan anak. Anak belepotan makanan, baju kotor, ganti topi, membersihkan muka, dan semua tugas kecil dilakukan semuanya oleh istri.

Tampaknya, bagaimana pria lebih superior dari wanita sudah terlihat sejak remaja. Lebih dari sekali terlihat, pasangan remaja, jika berpergian, maka yang membawa tas atau beban lebih banyak adalah yang wanitanya. Bahkan satu dua kali terlihat jika hanya ada satu sepeda, maka yang pria yang naik sepeda, sementara yang wanita jalan!

Itulah budaya Jepang dan tampaknya tidak ada masalah dengannya. Ini terbukti, dengan budaya yang sudah ratusan tahun itu, Jepang tetap bertahan dan maju sampai seperti sekarang.

Namun tampaknya pandangan beberapa wanita Jepang tentang budaya itu sedikit berubah saat mengenal lebih dekat kehidupan warga Indonesia di sana. Di wilayah Jepang, tepatnya di Sapporo, banyak pekerja dan mahasiswa Indonesia yang tinggal disana. Wanita-wanita Jepang ini mulai heran melihat kebiaasaan sederhana penduduk pria Indonesia yaitu melihat suami mencuci piring, atau suami membawa belanjaan di mall, atau suami yang menutup dan mengunci pintu saat sekeluarga berpergian, atau suami membantu mengganti baju anak di taman atau menyuapkan makanan kepada anaknya. Hal yang luar biasa juga untuk mereka melihat suami memasak dan menyiapkan makanan untuk istrinya, atau bermain dengan anak sementara istrinya duduk dan membaca.

Mereka pun merasa heran jika melihat mahasiswa pria selalu mengantarkan dan tidak membiarkan mahasiswi pulang sendirian malam-malam. Jepang adalah salah satu negara teraman di dunia. Tidak ada kekhawatiran untuk pulang malam sendirian. Mereka lebih heran lagi jika tahu alasan mengantar tersebut bukan karena takut ada apa-apa di jalan, tapi karena menghargai mereka. Mereka juga akan terheran-heran jika ada yang rela memberikan sepedanya untuk dinaiki sementara yang punyanya berjalan.

Mereka melihat bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya yang lebih baik dibanding dengan budaya mereka, khususnya dalam hubungan pria dan wanita. Dua dari tiga teman wanita Jepang jika ditanya apakah suka dengan pria Indonesia, maka mereka menjawab suka dan yang ketiganya bahkan ingin menikah dengan pria Indonesia. Mereka memandang, pria Indonesia sangat menjunjung wanita, rela berkorban dan bertangggung jawab. Bahkan kebanyakan wanita Jepang, suka dengan pria Indonesia karena kulitnya yang sawo matang.

~Adi~
    Secara keseluruhan di Jepang, penduduk pria lebih banyak daripada wanita. Dalam keluarga, perempuan bertanggung jawab semuanya, mulai dari mengurus suami dan rumah tangga. Tugas suami hanyalah bekerja mencari nafkah. Manga dan film-film Jepang, baik seting lama maupun baru pun secara tidak langsung menunjukan hal tersebut. Jika satu keluarga akan berpergian, maka sang istrilah yang menyiapkan semuanya. Bahkan, sampai menyiapkan dan memasukan semua barang ke dalam mobil pun di lakukan oleh istri. Suami tinggal masuk mobil dan menyetir. Yang sering terlihat di mall atau di taman pun sama. Suami tidak pernah direpotkan dengan urusan anak. Anak belepotan makanan, baju kotor, ganti topi, membersihkan muka, dan semua tugas kecil dilakukan semuanya oleh istri.

Tampaknya, bagaimana pria lebih superior dari wanita sudah terlihat sejak remaja. Lebih dari sekali terlihat, pasangan remaja, jika berpergian, maka yang membawa tas atau beban lebih banyak adalah yang wanitanya. Bahkan satu dua kali terlihat jika hanya ada satu sepeda, maka yang pria yang naik sepeda, sementara yang wanita jalan!

Itulah budaya Jepang dan tampaknya tidak ada masalah dengannya. Ini terbukti, dengan budaya yang sudah ratusan tahun itu, Jepang tetap bertahan dan maju sampai seperti sekarang.

Namun tampaknya pandangan beberapa wanita Jepang tentang budaya itu sedikit berubah saat mengenal lebih dekat kehidupan warga Indonesia di sana. Di wilayah Jepang, tepatnya di Sapporo, banyak pekerja dan mahasiswa Indonesia yang tinggal disana. Wanita-wanita Jepang ini mulai heran melihat kebiaasaan sederhana penduduk pria Indonesia yaitu melihat suami mencuci piring, atau suami membawa belanjaan di mall, atau suami yang menutup dan mengunci pintu saat sekeluarga berpergian, atau suami membantu mengganti baju anak di taman atau menyuapkan makanan kepada anaknya. Hal yang luar biasa juga untuk mereka melihat suami memasak dan menyiapkan makanan untuk istrinya, atau bermain dengan anak sementara istrinya duduk dan membaca.

Mereka pun merasa heran jika melihat mahasiswa pria selalu mengantarkan dan tidak membiarkan mahasiswi pulang sendirian malam-malam. Jepang adalah salah satu negara teraman di dunia. Tidak ada kekhawatiran untuk pulang malam sendirian. Mereka lebih heran lagi jika tahu alasan mengantar tersebut bukan karena takut ada apa-apa di jalan, tapi karena menghargai mereka. Mereka juga akan terheran-heran jika ada yang rela memberikan sepedanya untuk dinaiki sementara yang punyanya berjalan.

Mereka melihat bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya yang lebih baik dibanding dengan budaya mereka, khususnya dalam hubungan pria dan wanita. Dua dari tiga teman wanita Jepang jika ditanya apakah suka dengan pria Indonesia, maka mereka menjawab suka dan yang ketiganya bahkan ingin menikah dengan pria Indonesia. Mereka memandang, pria Indonesia sangat menjunjung wanita, rela berkorban dan bertangggung jawab. Bahkan kebanyakan wanita Jepang, suka dengan pria Indonesia karena kulitnya yang sawo matang.

Senin, 30 September 2013

20 Alasan Wanita Jepang Ingin Berkencan Dengan Pria Otaku

                                Foto: 20 Alasan Wanita Jepang Ingin Berkencan Dengan Pria Otaku

Kualitas apa yang dimiliki oleh pria otaku yang menarik para wanita pada mereka? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Goo membuat poling yang diikuti oleh 1.072 wanita Jepang untuk mengetahui 20 alasan teratas mereka berkencan dengan pria otaku. Poling ini dilakukan pada bulan Januari 2013 dengan hasil yang dapat kita lihat di bawah ini.

20 alasan teratas untuk berkencan dengan pria otaku:
1. Selalu setia (100)
2. Mengerti mengenai dunia IT (93,4)
3. Sederhana dan tidak terlihat mencolok (83,6)
4. Sangat kecil kecenderungannya untuk menghamburkan uang untuk minum-minum, membeli barang-barang bermerek yang mahal dan berjudi (83,1)
5. Berpotensi untuk menjadi bersinar jika dipoles (73,7)
6. Rasa malu mereka terlihat imut (71,4)
7. Tidak memaksakan diri untuk mendapatkan perhatian wanita (67,6)
8. Memiliki pengetahuan yang luas mengenai bermacam hal (63,4)
9. Pengertian akan hobi otaku (45,1)
9. Memiliki cara mereka sendiri untuk melakukan berbagai hal (45,1)
11. Tidak memberi perhatian yang terlalu berlebihan karena mereka sibuk dengan hobi mereka (39,9)
11. Terlihat sangat bersemangat jika berhubungan dengan hobi mereka (39,9)
13. Logis dan berbicara dengan sudut pandang tertentu (37,1)
13. Mampu menunjukkan dunia mereka kepada orang lain yang tidak menyadarinya (37,1)
15. Lingkaran sosial mereka tidak terlalu besar (35,7)
16. Anda akan mudah untuk memimpin hubungan itu karena kurangnya pengalaman mereka (32,9)
17. Tidak terlalu banyak membawa trauma akan hubungan masa lalu karena kurangnya pengalaman (30,5)
18. Penuh dengan bahan dan topik pembicaraan (30,0)
19. Dapat mendandani mereka seperti apapun karena mereka tidak memiliki preferensi (24,4)
20. Tidak ada keluhan saat menghabiskan uang untuk hobi (23,9)

Apakah Anda setuju dengan hasil poling di atas? Apa yang menjadi alasan Anda untuk berkencan dengan pria/wanita otaku?

~Adi~

   Kualitas apa yang dimiliki oleh pria otaku yang menarik para wanita pada mereka? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Goo membuat poling yang diikuti oleh 1.072 wanita Jepang untuk mengetahui 20 alasan teratas mereka berkencan dengan pria otaku. Poling ini dilakukan pada bulan Januari 2013 dengan hasil yang dapat kita lihat di bawah ini.

20 alasan teratas untuk berkencan dengan pria otaku:

1. Selalu setia (100)
2. Mengerti mengenai dunia IT (93,4)
3. Sederhana dan tidak terlihat mencolok (83,6)
4. Sangat kecil kecenderungannya untuk menghamburkan uang untuk minum-minum, membeli barang-barang bermerek yang mahal dan berjudi (83,1)
5. Berpotensi untuk menjadi bersinar jika dipoles (73,7)
6. Rasa malu mereka terlihat imut (71,4)
7. Tidak memaksakan diri untuk mendapatkan perhatian wanita (67,6)
8. Memiliki pengetahuan yang luas mengenai bermacam hal (63,4)
9. Pengertian akan hobi otaku (45,1)
9. Memiliki cara mereka sendiri untuk melakukan berbagai hal (45,1)
11. Tidak memberi perhatian yang terlalu berlebihan karena mereka sibuk dengan hobi mereka (39,9)
11. Terlihat sangat bersemangat jika berhubungan dengan hobi mereka (39,9)
13. Logis dan berbicara dengan sudut pandang tertentu (37,1)
13. Mampu menunjukkan dunia mereka kepada orang lain yang tidak menyadarinya (37,1)
15. Lingkaran sosial mereka tidak terlalu besar (35,7)
16. Anda akan mudah untuk memimpin hubungan itu karena kurangnya pengalaman mereka (32,9)
17. Tidak terlalu banyak membawa trauma akan hubungan masa lalu karena kurangnya pengalaman (30,5)
18. Penuh dengan bahan dan topik pembicaraan (30,0)
19. Dapat mendandani mereka seperti apapun karena mereka tidak memiliki preferensi (24,4)
20. Tidak ada keluhan saat menghabiskan uang untuk hobi (23,9)

Apakah Anda setuju dengan hasil poling di atas? ^^

Survey Membuktikan: Orang Jepang Tidur Lebih Sebentar Daripada Negara Lain

   Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara lain. Kebiasaan tidur mungkin dipengaruhi oleh budaya tempat kita tinggal. Sebuah survei internasional baru mengungkap, kebiasaan tidur orang-orang sangat beragam di seluruh dunia, tergantung tempat tinggal mereka. Sebagai contoh, orang yang tinggal di Amerika Serikat dan Jepang cenderung memiliki waktu tidur yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang tinggal di Kanada, Jerman, Meksiko, dan Inggris.

Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara-negara lain. Rata-rata mereka tidur enam jam 31 menit dan enam jam 22 menit. Survei juga menemukan, dua pertiga orang Jepang (66 persen) tidur kurang dari tujuh jam pada hari kerja. Untuk mencukupi kebutuhan tidur mereka yang kurang, 51 persen orang Amerika dan Jepang mengaku tidur siang satu hari dalam dua minggu terakhir. Orang dari negara lain yang disurvei mengatakan, mereka mengganti tidur mereka di akhir pekan dengan rata-rata 45 menit waktu tidur ekstra.


Menonton televisi sebelum tidur merupakan aktivitas sebelum tidur yang paling umum dilakukan. Antara 66 persen dan 80 persen orang di seluruh negara yang disurvei mengatakan, mereka menonton TV sebelum tidur. Naomi Goel, peneliti sekaligus profesor psikiatri di University of Pennsylvania mengatakan, sebagai survei internasional pertama yang membahas soal kebiasaan tidur, hasil ini memiliki kontribusi penting pada dunia ilmu pengetahuan. ”Meski kita tahu, semua orang butuh tidur, namun perbedaan budaya dari beberapa negara tentang kebiasaan tidur belum dieksplorasi dengan adekuat,” ujarnya.



Foto: Survey Membuktikan: Orang Jepang Tidur Lebih Sebentar Daripada Negara Lain 

Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara lain. Kebiasaan tidur mungkin dipengaruhi oleh budaya tempat kita tinggal. Sebuah survei internasional baru mengungkap, kebiasaan tidur orang-orang sangat beragam di seluruh dunia, tergantung tempat tinggal mereka. Sebagai contoh, orang yang tinggal di Amerika Serikat dan Jepang cenderung memiliki waktu tidur yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang tinggal di Kanada, Jerman, Meksiko, dan Inggris.

Hasil survei menunjukkan, orang Amerika dan Jepang tidur 30-40 menit lebih singkat di hari kerja dibandingkan dengan orang di negara-negara lain. Rata-rata mereka tidur enam jam 31 menit dan enam jam 22 menit. Survei juga menemukan, dua pertiga orang Jepang (66 persen) tidur kurang dari tujuh jam pada hari kerja. Untuk mencukupi kebutuhan tidur mereka yang kurang, 51 persen orang Amerika dan Jepang mengaku tidur siang satu hari dalam dua minggu terakhir. Orang dari negara lain yang disurvei mengatakan, mereka mengganti tidur mereka di akhir pekan dengan rata-rata 45 menit waktu tidur ekstra.

Menonton televisi sebelum tidur merupakan aktivitas sebelum tidur yang paling umum dilakukan. Antara 66 persen dan 80 persen orang di seluruh negara yang disurvei mengatakan, mereka menonton TV sebelum tidur. Naomi Goel, peneliti sekaligus profesor psikiatri di University of Pennsylvania mengatakan, sebagai survei internasional pertama yang membahas soal kebiasaan tidur, hasil ini memiliki kontribusi penting pada dunia ilmu pengetahuan. ”Meski kita tahu, semua orang butuh tidur, namun perbedaan budaya dari beberapa negara tentang kebiasaan tidur belum dieksplorasi dengan adekuat,” ujarnya.
 

~Adi~

Pelajaran Kecil dari Konosuke Matsushita

                                                  Foto: Pelajaran Kecil dari Konosuke Matsushita

Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita (Panasonic) group, adalah sosok yang kharismatis. Salah satu ucapan dia yang terknal adalah “Perusahaan yang memproduksi barang adalah perusahaan yang mengasuh manusia” (mono wo tsukuru kaisha wa hito wo sodateru kaisha). Artinya dia menempatkan manusia sebagai sentral dalam pengembangan perusahaan/bisnisnya. Itulah yang dia tunjukkan dalam berbagai episode kehidupannya.

Ada cerita yang sudah cukup sering ditulis di sana sini, tentang bagaimana Matsushita memilih untuk tidak mengurangi karyawan saat krisis ekonomi yang sangat dahsyat tahun 1929. Ia mengurangi produksi dengan mengurangi jam kerja karyawan, dan tetap membayar upah mereka. Menjamin karyawan dan keluarganya bisa tetap bertahan hidup di tengah krisis.

Di kemudian hari para karyawan yang dia selamatkan ini menyelamatkan dirinya. Saat Jenderal Mc Arthur menguasai Jepang, dia menahan banyak pengusaha yang terlibat dalam produksi senjata selama perang. Sebagian dari pengusaha ini melakukan hal itu karena terpaksa, di bawah tekanan rezim militer. Matsushita termasuk di antaranya. Tapi para karyawan yang diselamatkan tadi membuat petisi, meminta Matsushita dibebaskan. Akhirnya petisi ini dikabulkan.

Ada lagi cerita menarik yang saya dengar melalui sebuah stasiun TV Jepang. Suatu hari Matsushita hendak menghadiri sebuah pertemuan bisnis penting. Iya hendak menggunakan mobil, tapi sopirnya belum datang. Ia menunggu cukup lama sampai akhirnya sopir itu datang. Akibatnya ia terlambat sampai ke tempat pertemuan.

Matsushita marah besar dengan kejadian ini. Ia mengumumkan bahwa kejadian ini memalukan dan tak boleh terulang. Agar tak terulang, harus ada yang dihukum potong gaji (kalau tak salah potong sebulan gaji). Siapa yang dihukum? Ketika keputusan diumumkan, banyak orang terkejut. Ternyata Matsushita sendirilah yang dipotong gajinya. “Yang terlambat hadir di pertemuan itu saya, bukan sopir saya. Saya punya kewajiban mencari jalan agar tidak terlambat ketika sopir saya berhalangan.” begitu alasan yang dia berikan.

Di saat lain diceritakan Matsushita sedang mengamati pengunjung yang antri hendak masuk ke sebuah museum Panasonic. Terjadi antrian panjang di bawah cuaca yang cukup panas. Karena kasihan melihat pengunjung yang kepanasan itu, Matsushita mengambil beberapa lembar pamflet Panasonic, lalu membuat topi dengan kertas pamflet itu, lalu membagikannya ke pengunjung. Hal ini kemudian ditiru oleh para stafnya. Ternyata ada efek yang tak lazim dari kegiatan ini. Topi kertas berlogo Panasonic itu tetap dipakai pengunjung dalam perjalanan pulang, sehingga menjadi semacam media iklan. Kemudian pihak museum secara resmi menyediakan topi kertas berlogo Panasonic.

Pelajaran dari Matsuhita: perlakukan manusia dengan baik dalam berbisnis.

~Adi~

    Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita (Panasonic) group, adalah sosok yang kharismatis. Salah satu ucapan dia yang terknal adalah “Perusahaan yang memproduksi barang adalah perusahaan yang mengasuh manusia” (mono wo tsukuru kaisha wa hito wo sodateru kaisha). Artinya dia menempatkan manusia sebagai sentral dalam pengembangan perusahaan/bisnisnya. Itulah yang dia tunjukkan dalam berbagai episode kehidupannya.

Ada cerita yang sudah cukup sering ditulis di sana sini, tentang bagaimana Matsushita memilih untuk tidak mengurangi karyawan saat krisis ekonomi yang sangat dahsyat tahun 1929. Ia mengurangi produksi dengan mengurangi jam kerja karyawan, dan tetap membayar upah mereka. Menjamin karyawan dan keluarganya bisa tetap bertahan hidup di tengah krisis.

Di kemudian hari para karyawan yang dia selamatkan ini menyelamatkan dirinya. Saat Jenderal Mc Arthur menguasai Jepang, dia menahan banyak pengusaha yang terlibat dalam produksi senjata selama perang. Sebagian dari pengusaha ini melakukan hal itu karena terpaksa, di bawah tekanan rezim militer. Matsushita termasuk di antaranya. Tapi para karyawan yang diselamatkan tadi membuat petisi, meminta Matsushita dibebaskan. Akhirnya petisi ini dikabulkan.

Ada lagi cerita menarik yang saya dengar melalui sebuah stasiun TV Jepang. Suatu hari Matsushita hendak menghadiri sebuah pertemuan bisnis penting. Iya hendak menggunakan mobil, tapi sopirnya belum datang. Ia menunggu cukup lama sampai akhirnya sopir itu datang. Akibatnya ia terlambat sampai ke tempat pertemuan.

Matsushita marah besar dengan kejadian ini. Ia mengumumkan bahwa kejadian ini memalukan dan tak boleh terulang. Agar tak terulang, harus ada yang dihukum potong gaji (kalau tak salah potong sebulan gaji). Siapa yang dihukum? Ketika keputusan diumumkan, banyak orang terkejut. Ternyata Matsushita sendirilah yang dipotong gajinya. “Yang terlambat hadir di pertemuan itu saya, bukan sopir saya. Saya punya kewajiban mencari jalan agar tidak terlambat ketika sopir saya berhalangan.” begitu alasan yang dia berikan.

Di saat lain diceritakan Matsushita sedang mengamati pengunjung yang antri hendak masuk ke sebuah museum Panasonic. Terjadi antrian panjang di bawah cuaca yang cukup panas. Karena kasihan melihat pengunjung yang kepanasan itu, Matsushita mengambil beberapa lembar pamflet Panasonic, lalu membuat topi dengan kertas pamflet itu, lalu membagikannya ke pengunjung. Hal ini kemudian ditiru oleh para stafnya. Ternyata ada efek yang tak lazim dari kegiatan ini. Topi kertas berlogo Panasonic itu tetap dipakai pengunjung dalam perjalanan pulang, sehingga menjadi semacam media iklan. Kemudian pihak museum secara resmi menyediakan topi kertas berlogo Panasonic.

Pelajaran dari Matsuhita: perlakukan manusia dengan baik dalam berbisnis.

Seks dalam Masyarakat Jepang

                                               Foto: Seks dalam Masyarakat Jepang 

Salah satu acara TV yang dulu pernah ada di Jepang adalah Kissiya. Ini singkatan dari kisu dake jya, iya. Artinya kalau diterjemahkan dalam bahasa gaul “kalau cuma cium sih, ogah”. Isi acara ini, seperti dari namanya, adalah liku-liku hubungan seksual. Acara diasuh oleh komedian kawakan, Shinnosuke Shimada.

Acara dikemas dalam format talk show, dipadu sedikit dengan reality. Biasanya ada seseorang, atau pasangan yang mengadukan masalah seksual yang dia hadapi, lalu program itu membantu menyelesaikan masalahnya. Tentu saja format acara secara keseluruhan mengalir secara kocak, karena dipandu oleh seorang pelawak.

Salah satu cerita di acara itu yang masih saya ingat adalah tentang seorang gadis berusia sekitar 23 tahun. Dia sudah punya pacar. Dan dia masih perawan. Dia merasa sudah tidak patut untuk tetap perawan di usia tersebut. Dia ingin melakukan hubungan seks, tapi bingung bagaimana memulainya. Bingung, sekaligus takut. Juga malu untuk mengkomunikasikannya dengan sang pacar.

Melalui beberapa perbincangan lucu akhirnya si gadis berhasil diyakinkan bahwa hubungan seks, termasuk yang pertama kali harus berjalan secara natural tanpa tekanan. Tentu saja disertai nasehat konyol kepada si pacar, tentang bagaimana seks yang pertama kali harus dilakukan.

Acara ini bagi saya informatif. Dalam arti dari acara tersebut saya mendapat gambaran tentang presepsi orang Jepang terhadap seks, serta bagaimana peri laku mereka. Secara umum saya melihat orang Jepang sekarang seperti OKB dalam hal seks. Iklim seks bebas sudah ada. Artinya sudah lazim orang melakukan hubungan seks tanpa ikatan pernikahan. Tapi pada saat yang sama, orang-orang Jepang itu tipikal orang Asia yang masih pemalu.

Kebebasan dalam hal hubungan seksual di masyarakat Jepang saya rasakan saat saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan seorang teman. Satu-satunya resepsi pernikahan yag saya hadiri selama saya di Jepang. Di acara itu disajikan presentasi tentang sejarah hubungan kedua mempelai hingga mereka ke pelaminan. Menjelang akhir presentasi ditunjukkan foto hasil tes urin yang menunjukkan mempelai perempuan positif hamil, yang kemudian membuat pasangan ini memutuskan untuk menikah.

Saya masih menemukan istilah dekichatta kekkon, pernikahan karena si perempuan terlanjur hamil. Adanya istilah ini sebenarnya menunjukkan sisa-sisa iklim konservatif, di mana kehamilan atau hubungan seksual seharusnya dilakukan sebelum pernikahan. Tapi nampaknya istilah ini akan berganti menjadi dekita kekkon. Dekichatta adalah bentuk non-formal dari dekite simatta. Ungkapan dengan tte-shimatta biasanya untuk menunjukkan sesuatu tidak diinginkan, terlanjur, dan juga tidak terlalu baik. Dekita, merujuk pada kehamilan bermakna lebih datar, hanya kehamilan biasa, bukan sesuatu yang patut disesali. Bergesernya ungkapan dari dekichatta kekkon menjadi dekita kekkon menunjukkan pergeseran presepsi masyarakat terhadap hubungan seksual pra nikah.

Anak-anak muda Jepang memang sudah menganggap hubungan seks di luar nikah sebagai hal yang lumrah. Para orang tua nampaknya masih setengah-setengah. Dalam arti, sebagian masih ingin agar tradisi lama dijaga, tapi tak kuasa menahan gempuran arus kebebasan.

Yang mengkhatawirkan adalah euforia kebebasan yang berlebih. Yaitu kebebasan tanpa batas, seperti hubungan seks di usia dini. Konon, anak-anak di Jepang sudah mulai berhubungan seks sejak usia SMP. Juga, karena seks belum jadi topik pembicaraan terbuka, banyak anak muda melakukan hubungan seks tanpa pengetahuan, sehingga gampang terjerumus pada seks yang tidak sehat.

Ini masih ditambah dengan masalah pelacuran tak resmi, di mana anak-anak perempuan muda berhubungan dengan laki-laki yang lebih tua untuk mendapatkan imbalan uang, yang disebut dengan istilah enjyo kousai.

Saya tak tahu persis, sejak kapan masyarakat Jepang menjadi bebas dalam hal seks. Dugaan saya erat ini terjadi bersamaan dengan berkembangnya ekonomi Jepang sejak akhir dekade 60-an, hingga ke masa booming tahun 80-an.

Tak banyak saya lihat institusi atau regulasi yang mengontrol kebebasan seksual di Jepang. Penerbitan majalah/buku yang memuat gambar telanjang demikian bebas. Demikian pula video porno. dulu sekitar tahun 1997 kita sudah bisa menemukan buku/majalah yang memuat gambar telanjang dijual bebas di convenient store. Untuk membeli memang dibatasi bagi usia 20 tahun ke atas. Tapi karena tidak disegel, siapa saja bisa melihat isi majalah itu di toko tersebut. Belakangan diberlakukan aturan wajib segel.

Adapun pelacuran, secara resmi hukum Jepang melarangnya. Dalam arti, layanan seksual yang membolehkan intercourse. Tapi tidak ada larangan bagi yang diluar itu, seperti layanan oral seks. Layanan prostitusi di Jepang biasanya disertai dengan term and condition bahwa layanan intercourse tidak diberikan. Tapi siapa yang menjamin hal itu tidak terjadi?

~Adi~

     Salah satu acara TV yang dulu pernah ada di Jepang adalah Kissiya. Ini singkatan dari kisu dake jya, iya. Artinya kalau diterjemahkan dalam bahasa gaul “kalau cuma cium sih, ogah”. Isi acara ini, seperti dari namanya, adalah liku-liku hubungan seksual. Acara diasuh oleh komedian kawakan, Shinnosuke Shimada.

Acara dikemas dalam format talk show, dipadu sedikit dengan reality. Biasanya ada seseorang, atau pasangan yang mengadukan masalah seksual yang dia hadapi, lalu program itu membantu menyelesaikan masalahnya. Tentu saja format acara secara keseluruhan mengalir secara kocak, karena dipandu oleh seorang pelawak.

Salah satu cerita di acara itu yang masih saya ingat adalah tentang seorang gadis berusia sekitar 23 tahun. Dia sudah punya pacar. Dan dia masih perawan. Dia merasa sudah tidak patut untuk tetap perawan di usia tersebut. Dia ingin melakukan hubungan seks, tapi bingung bagaimana memulainya. Bingung, sekaligus takut. Juga malu untuk mengkomunikasikannya dengan sang pacar.

Melalui beberapa perbincangan lucu akhirnya si gadis berhasil diyakinkan bahwa hubungan seks, termasuk yang pertama kali harus berjalan secara natural tanpa tekanan. Tentu saja disertai nasehat konyol kepada si pacar, tentang bagaimana seks yang pertama kali harus dilakukan.

Acara ini bagi saya informatif. Dalam arti dari acara tersebut saya mendapat gambaran tentang presepsi orang Jepang terhadap seks, serta bagaimana peri laku mereka. Secara umum saya melihat orang Jepang sekarang seperti OKB dalam hal seks. Iklim seks bebas sudah ada. Artinya sudah lazim orang melakukan hubungan seks tanpa ikatan pernikahan. Tapi pada saat yang sama, orang-orang Jepang itu tipikal orang Asia yang masih pemalu.

Kebebasan dalam hal hubungan seksual di masyarakat Jepang saya rasakan saat saya menghadiri sebuah resepsi pernikahan seorang teman. Satu-satunya resepsi pernikahan yag saya hadiri selama saya di Jepang. Di acara itu disajikan presentasi tentang sejarah hubungan kedua mempelai hingga mereka ke pelaminan. Menjelang akhir presentasi ditunjukkan foto hasil tes urin yang menunjukkan mempelai perempuan positif hamil, yang kemudian membuat pasangan ini memutuskan untuk menikah.

Saya masih menemukan istilah dekichatta kekkon, pernikahan karena si perempuan terlanjur hamil. Adanya istilah ini sebenarnya menunjukkan sisa-sisa iklim konservatif, di mana kehamilan atau hubungan seksual seharusnya dilakukan sebelum pernikahan. Tapi nampaknya istilah ini akan berganti menjadi dekita kekkon. Dekichatta adalah bentuk non-formal dari dekite simatta. Ungkapan dengan tte-shimatta biasanya untuk menunjukkan sesuatu tidak diinginkan, terlanjur, dan juga tidak terlalu baik. Dekita, merujuk pada kehamilan bermakna lebih datar, hanya kehamilan biasa, bukan sesuatu yang patut disesali. Bergesernya ungkapan dari dekichatta kekkon menjadi dekita kekkon menunjukkan pergeseran presepsi masyarakat terhadap hubungan seksual pra nikah.

Anak-anak muda Jepang memang sudah menganggap hubungan seks di luar nikah sebagai hal yang lumrah. Para orang tua nampaknya masih setengah-setengah. Dalam arti, sebagian masih ingin agar tradisi lama dijaga, tapi tak kuasa menahan gempuran arus kebebasan.

Yang mengkhatawirkan adalah euforia kebebasan yang berlebih. Yaitu kebebasan tanpa batas, seperti hubungan seks di usia dini. Konon, anak-anak di Jepang sudah mulai berhubungan seks sejak usia SMP. Juga, karena seks belum jadi topik pembicaraan terbuka, banyak anak muda melakukan hubungan seks tanpa pengetahuan, sehingga gampang terjerumus pada seks yang tidak sehat.

Ini masih ditambah dengan masalah pelacuran tak resmi, di mana anak-anak perempuan muda berhubungan dengan laki-laki yang lebih tua untuk mendapatkan imbalan uang, yang disebut dengan istilah enjyo kousai.

Saya tak tahu persis, sejak kapan masyarakat Jepang menjadi bebas dalam hal seks. Dugaan saya erat ini terjadi bersamaan dengan berkembangnya ekonomi Jepang sejak akhir dekade 60-an, hingga ke masa booming tahun 80-an.

Tak banyak saya lihat institusi atau regulasi yang mengontrol kebebasan seksual di Jepang. Penerbitan majalah/buku yang memuat gambar telanjang demikian bebas. Demikian pula video porno. dulu sekitar tahun 1997 kita sudah bisa menemukan buku/majalah yang memuat gambar telanjang dijual bebas di convenient store. Untuk membeli memang dibatasi bagi usia 20 tahun ke atas. Tapi karena tidak disegel, siapa saja bisa melihat isi majalah itu di toko tersebut. Belakangan diberlakukan aturan wajib segel.

Adapun pelacuran, secara resmi hukum Jepang melarangnya. Dalam arti, layanan seksual yang membolehkan intercourse. Tapi tidak ada larangan bagi yang diluar itu, seperti layanan oral seks. Layanan prostitusi di Jepang biasanya disertai dengan term and condition bahwa layanan intercourse tidak diberikan.

Agama Orang Jepang


                              

    Di sekolah kita diajarkan bahwa agama (mayoritas) orang Jepang adalah Shinto dan Budha. Informasi ini tidak salah. Hanya saja bisa menimbulkan salah paham kalau kita membayangkan agama itu dihayati dan dijalankan seperti di Indonesia.

Kalau ditanya soal agama orang Jepang modern cenderung mengaku tidak beragama (musyukyo). Mereka juga sering mengungkapkannya dengan cara lain. “Nihonjin wa syukyo ni mukanshin.” (Orang Jepang tidak punya minat pada agama.). Saya melihat orang Jepang tidak beragama dalam arti tidak terikat pada suatu agama tertentu (organized religion).

Di Jepang kita bisa menemukan banyak sekali tempat ibadah, yaitu kuil Budha (otera) dan kuil Shinto (jinja). Tapi kita tidak akan menemukan orang-orang yang secara berkala melakukan ritual ibadah di situ. Paling-paling mereka melakukan ritual secara insidental, misalnya saat tahun baru.

Lebih penting lagi, mereka tidak terikat untuk melulu melakukan ibadah menurut tata cara salah satu agama. Saat kelahiran anak orang Jepang membawanya ke jinja untuk upacara Omiya-mairi (お宮参り). Demikian pula saat anak berumur 3, 5, dan 7 tahun, ada ritual Shichigosan (七五三)yang dilakukan di jinja. (Sichigosan artinya tujuh lima tiga.) Tapi saat meninggal, upacara penguburan dilakukan dengan tata cara Budha di Otera.

Lebih menarik lagi, sekarang ada tren untuk menikah dengan tata cara Kristen. Di hotel-hotel tertentu tersedia kapel. Bukan untuk beribadah, tapi untuk upacara pernikahan. Yang menikah bukan orang yang beragama Kristen. Yang menikahkan juga bukan pendeta. Biasanya cuma orang bule yang bekerja paruh waktu sebagai tukang menikahkan. Saat Natal orang Jepang membeli dan makan Christmas cake, tapi mereka tidak ke gereja.

Tentu saja ada sebagian kecil orang Jepang yang menekuni agama secara serius. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa orang Jepang itu tidak beragama. Perlu ditambahkan bahwa hari-hari libur nasional Jepang tidak ada yang merupakan hari libur keagamaan. Bahkan hari Natal sekalipun di Jepang bukan hari libur.

Bagaimana dengan Islam? Jumlah orang Islam cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Ini diiringi dengan meningkatnya jumlah mesjid. Beberapa kota besar seperti Tokyo, Kobe, Nagoya, dan Fukuoka sudah memiliki mesjid.

Orang Islam di Jepang umumnya adalah imigran dari negara-negara berpenduduk muslim, seperti Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dan lain-lain. Sebagian datang sebagai mahasiswa, kemudian bekerja. Juga ada yang datang sebagai pekerja maupun pengusaha. Beberapa dari mereka menikah dengan orang Jepang, dan pasangannya ini masuk Islam. Juga ada beberapa orang Jepang yang masuk Islam atas kemauan sendiri. Tapi jumlahnya tidak banyak.